Kado ultah buat Mama

Januari 3, 2009 - Leave a Response

Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh
Kepripun kabare Ma? Sae? Zaki kepriwe? Maaf sue ra ngubungi, butuh waktu go dewekan… he he alah.. biasane juga dewekan dink. Zaki sok takon aku ra Ma? Ria yakin mbesuk gede zaki bakal dadi wong hebat, sing bisa gawe mama bangga. Amin…
Met ultah ya Ma? Kadone? Gampang… Kadoku sebuah cerita. Yah.. mung bisane nggombal. He he…
Begini ceritanya :

Ada sebuah keluarga yang terdiri ayah, ibu, dan anak. Sejak kecil, anak itu mengira bahwa keluarganya akan baik-baik saja, sama seperti keluarga-keluarga yang lain, walaupun sering melihat kedua orang tuanya bertengkar, cekcok, padahal waktu itu ia masih terlalu kecil untuk paham apa itu pertengkaran. Dia ga tahu apa yang harus dia lakukan. Cuma diam, bahkan untuk bertanya, “Kenapa kalian bertengkar?”, itu saja dia ga berani. Sejak kecil ia tak pernah diajari untuk bermusyawarah, untuk mendengarkan pendapat orang lain, jarang diberi contoh untuk berkomunikasi yang baik, jadi dia hanya diam dan membiarkan semuanya itu terjadi. Walaupun begitu, semua peristiwa-peristiwa itu terekam kuat dalam memorinya.
Suatu ketika, ayahnya pergi dari rumah dan tak pernah kembali lagi untuk pulang ke rumah. Yang lagi-lagi dia tak ingin tahu kenapa. Tapi dalam hati kecilnya ia tak bisa mengacuhkannya. Di sisi lain si ayah anak ini tadi juga berat mesti berpisah dengan keluarganya, sebuah keluarga yang sebenarnya ingin ia pertahankan. Mungkin itu pilihan sang ayah, daripada akan memperburuk keadaan. Terpaksa harus berpisah dengan anak semata wayangnya itu. Sejak saat itu sang ibu mengasuh anaknya sendirian, single parent. Banting tulang, kerja keras, berbuat apapun untuk mengasuh anaknya, ingin melihat anaknya berhasil.
Di sisi lain sang ayah pun tetap memperhatikan dan mengawasi anaknya, walaupun dari tempat yang berbeda. Sering ia kangen dengan keluarganya, terutama anaknya. Ingin bertemu, tapi ternyata ga semudah yang ia bayangkan. Sebenarnya ia masih ingin mendampingi anaknya beranjak besar, mengawasi perkembangannya, tapi apa mau dikata. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memenuhi kebutuhan lahirnya, karena hanya itu yang bisa ia perbuat. Batasan jarak dan waktu yang tidak mengijinkannya melakukan lebih dari itu.
Semakin hari semakin lama, semakin anak itu mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya, mengerti apa yang berlaku di keluarganya. Broken home, frase yang biasa ia dengar di tv, di kisah-kisah fiksi, yang ternyata malah menjadi fakta dalam hidupnya. Sering ia bertanya pada Tuhannya, “Kenapa aku tidak sama dengan teman-temanku Tuhan? Kenapa aku hanya sebentar melihat ayah dan ibuku dalam satu rumah? Lihat, temen-temenku yang lain bisa berkumpul bareng di sore hari. Bercanda, tertawa, bercerita. Kenapa kami tidak? Apa mauMu Tuhan? Apa salahku? Apa Kau membenciku? Kenapa mesti aku? Kenapa aku?”
Pertanyaan kenapa mesti dia, itulah yang sering ia tanyakan pada Tuhannya. Namun seakan-akan tak ada jawaban dari Tuhannya.
Sang anak semakin besar, beranjak remaja. Keadaan rumahnya tak bernjak baik. Mungkin fase remaja menjadi fase yang tak mudah baginya. Seringkali anak itu bersikap semaunya, sering melanggar aturan-aturan. Belum lagi kadang terjadi kesalahpahaman antara dia dan ibunya. Ibunya sering kesal menghadapi anaknya ini. Anak itu masih belum melihat betapa susahnya ibu membesarkannya.
Tiba waktunya si anak harus menentukan pendidikan tingkat tinggi. Tanpa minta pendapat kedua orang tuanya, ia mendaftarkan diri di universitas di luar kotanya. Sebenarnya dalam hati kecil, dia ingin pergi dari perang dingin antara ayah dan ibunya. Mungkin ia merasa terjebak di tengah-tengah diantara kedua orang tuanya. Lelah, nah itu dia mungkin kata yang mampu mewakili perasaannya saat itu. Hubungan dengan ibunya juga belum begitu harmonis, masih sering terjadi salah paham, malah kadang kebawa emosi. Niat awal si anak adalah meninggalkan itu semua dengan meninggalkan tempat kejadian perkara. Berharap ada lingkungan baru yang bisa melupakannya dari masalah-masalah di rumah.
Entah bagaimana awalnya, ayah dan ibunya tahu kalau dia mendaftar di universitas di luar kotanya. Terjadilah perbincangan antara ibu dan anaknya itu. Mungkin baru di sinilah ada komunikasi yang enak. Dari awal ibunya ga satuju anaknya pergi dari kotanya andai kata ia diterima, tapi saat itu berbalik 180 derajat, sang ibu malah mendukung niat si anak, memintanya serius belajar, dan agar bisa mengangkat nama keluarganya, karena ga ada yang bisa melakukannya kecuali dia. Mendengar itu, sang anak teringat akan kenangan-kenangan di masa kecilnya. Dia ingat sindiran-sindiran, cemoohan dari tetangganya dulu. Sakit, tapi dia ga pernah cerita ke ibunya. Saat itulah ia sadar bahwa perjuangan ibunya selama ini begitu besar. Kerja kerasnya, lembur sampai malam, kalau ga bangun pagi-pagi menyelesaikan pekerjaannya di saat si anak sedang enak-enaknya terlelap. Belum lagi kebutuhan-kebutuhannya selama ini yang telah dia usahakan untuk terpenuhi. Sang anak sadar, ia jarang sekali melihat ibunya beristirahat, atau tertawa. Belum lagi sakit hati ibunya menghadapi kenakalannya selama ini. Dia menyesal, dan terharu mendengar apa yang dikatakan ibunya.
Semenjak itu, sedikit demi sedikit ia berubah. Awalnya ia anak yang males belajar, dan hanya main-main dalam studinya, kini ia bertekad untuk lebih serius. Belajar lebih keras, belajar dan belaar agar bisa diterima di universitas yang ditujunya, agar bisa mengangkat nama keluarganya. Ketika ia kelelahan atau mulai jenuh, ia ingat lagi cita-citanya, ingat lagi tujuannya.
Saat pengumuman pun tiba, dan berkat ijin Tuhannya dia diterima. Dan kalian tahu, siapa yang pertama kali menangis mendengar kabar ini? Ya..benar, ibunya…
— 0 —-
Cerita masih berlanjut…
Setelah berpisah kota dengan orang tuanya, anak itu berusaha mandiri. Awalnya memang butuh adaptasi, yang semula terlayani, kini dia harus belajar menentukan pilihan sendiri. Di awal kepindahannya ke kota barunya itu, ia masih sering teringat ibunya. Ketika dia pulang sekolah, biasanya ibunya menjemputnya, sudah banyak makanan di rumah, dan masih banyak lagi. Semakin tergambar jelas kebaikan-kebaikan ibunya selama ini, yang sering ia abaikan. Mungkin ini jawaban dari doa-doanya selama ini. Dengan begitu, si anak jadi semakin sadar akan hutang budinya. Banyak hal yang ia pelajari di kuliahnya, tidak sekedar materi kuliah, tapi lebih banyak lagi akan pelajaran kehidupan. Bukankah tidak ada sekolah yang lebih baik disbanding kehidupan itu sendiri?
Kadang ia merasa heran, ketika melihat ada suami istri yang jalan berduaan, menampilkan kemesraan dan kasih sayangnya. Kadang ia merasa aneh melihat ada seorang ayah, ibu, dan anak yang naik motor bersama, atau ketika melihat rumah yang di dalamnya ada kakek dan nenek hidup bersama. Kok bisa ya? Gimana rasanya ya? Tanya hati kecilnya.
Namun lambat laun pertanyaan-pertanyaan itu hilang tertelan kesibukan. Saat ia lelah, dan jenuh menajalani rutinitas, atau ketika patah semangat, ia ingat lagi akan perjuangan ibunya di rumah. Ia ingat lagi akan cita-citanya untuk membanggakan dan membahagiakan ayah dan ibunya. Dan kemudian ia menemukan semangatnya kembali.
Beriringan dengan berjalannya waktu, ia semakin belajar. Ia tahu masa lalu itu tak akan pernah hilang, karena dia sadar, adanya dia di saat ini adalah berkat susunan-susunan masa lalunya. Bedanya saat ini, ia lebih bisa melihat masa lalunya dari sudut pandang yang berbeda. Hatinya sudah bisa berdamai dengan sosok ayah dan ibunya, mereka adalah orang-orang yang hebat yang mengajarkan begitu banyak hal, hingga sekarang ia mampu menjadi dirinya yang sekarang. Meskipun masih ada riak-riak kecil yang mengganggunya, ketika ia masih menerima kenyataan bahwa kadang ia terjebak diantara perang dingin kedua orang tuanya. Fakta yang bisa saja dipertanyakan. Padahal masing-masing dari mereka sudah memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri. Tapi ia tak mau terlalu ikut campur untuk masalah itu. Ia hanya berusaha bersikap adil, dan kata orang, adil itu ga mudah. Harapannya saat itu adalah kedua orang tuanya bisa saling memaafkan, walaupun mungkin sakit di masa lalu itu tak akan pernah terlupakan. Dan sesungguhnya semua pihak merasakan sakit hati itu. Berat atau ringannya sakit itu, tergantung dari cara pandang masing-masing orang saja. Anak itu ingin melihat ada kebencian lagi diantara keduanya, susah mungkin, tapi ia selalu yakin kalau itu bisa dilakukan. Orang bijak mengatakan kalau kebencian hanya akan membakar orang yang memiliki kebencian itu.
Belum lama ini, sang anak kesal pada ibunya, sebab apa yang ia lakukan ke ayahnya disangkut pautkan dengan materi yang diberikan ayahnya kepadanya. Anak itu tak pernah berfikir sampai kesana, sebab itulah ia kesal, dan tak berbicara. Tapi setelah ia mencoba berdiri di posisi ibunya, dia mulai memaklumi, “Mungkin lagi emosi”, itu yang sering ia yakinkan pada dirinya.
Sedari ia kecil hingga hari ini, di hari ulang tahun ibunya, dia selalu ingin berterima kasih pada ibunya, dan ingin menyampaikan kalau ia sayang padanya. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana cara yang baik untuk memberitahunya. Ia selalu ingin ibunya tahu, bahwa tak akan pernah ada orang yang akan menggantikan posisinya, dia ingin meyakinkan, kalau ibunya cuma satu, dan ayahnya pun cuma satu.
Pertanyaan yang dari dulu selalu ia tanyakan pada Tuhannya, kenapa mesti ia yang menerima cobaan itu, kali ini tak pernah ia tanyakan lagi. Karena ia sudah memiliki jawabannya,
“Karena Tuhan tahu bahwa aku kuat, dan pasti bisa melewati ujian itu.”
Kini ia bisa berlapang dada atas apapun yang diujikan padanya, karena ia tak pernah menganggap sesuatu adalah ujian, tapi tantangan. Tantangan dari Tuhan kepada hamba yang dikasihiNya, tantangan untuk hamba yang Ia percayai pasti kuat menjalaninya.
Dia ingin memberikan hadiah yang lebih indah dari yang sekarang ia berikan pada ibunya, tapi yang bisa ia lakukan hanya berdoa. Dia berdoa,
“ Ya Allah, terima kasih telah Engkau anugerahi orang tua yang mengasihiku, terima kasih atas ibu yang hebat hingga aku bisa seperti sekarang, terima kasih karena kau beri ayah yang tak pernah lupa akan tanggung jawabnya padaku. Begitu banyak yang telah ia lakukan untukku. Setetes air mata yang mereka keluarkan untukku tak akan pernah tergantikan walaupun dengan darah yang ada di tubuhku. Rabb, berilah mereka kebahagiaan di dunia dan akhiratMu. Izinkan aku membanggakan dan membahagiakan mereka. Berilah senyuman, agar mereka tak perlu menangis lagi. Bukalah dan hidupkanlah mata hati mereka agar nampak indah dunianya. Bukalah hatinya agar mereka tahu bahwa aku menyayangi mereka. Karuniakanlah mereka yang terbaik dari segala yang baik. Kabulkan setiap pinta dan doa mereka. Buanglah segala rasa yang justru akan menyakiti hati mereka. Maafkan segala dosa dan khilaf yang pernah ada. Hilangkan kegundahan dan siksa bagi mereka. Berilah kemudahan dalam setiap urusan mereka, Lancarkan rezekinya, serta jadikanlah mereka hamba-hambaMu yang pandai bersyukur. Jemputlah mereka dalam keadaan yang terbaik dan dalam keadaan Khusnul Khatimah, berilah mereka cahaya dan hidayahMu, ingatkan mereka padaMu. Jadikanlah mereka hamba-hambaMu yang Kau kasihi. Dan tolong jagalah mereka dari segala yang buruk. Serta indahkan hidup mereka ya Allah…
Ya Allah, izinkan mereka tahu bahwa aku sayang mereka
Izinkan mereka tahu kalau mereka adalah orang-orang terhebat yang pernah aku miliki…
Berilah kesempatan untukku berbakti dan menjalankan tugasku sebagai anak dengan baik, bisa bersikap adil pada keduanya…
Amin…
Terima kasih ya Allah… Engkau lah yang Maha Baik dari yang terbaik…”

Anak itu bukannya tak pernah menangis atau bersedih, hanya saja dia tak ingin menambah kesedihan orang tuanya dengan memperlihatkan kesedihannya. Tak ingin menambah beban orang tuanya dengan memperlihatkan masalahnya. Karena ia merasa apa yang sudah ia terima selama ini, itu sudah sangat lebih dari cukup. Ia ingin berterima kasih kepada orang tuanya, khususnya ibu yang telah membesarkannya…
Dan ia ingin ibunya tahu, bahwa ia bersyukur memilikinya…

The End
Fiuh… akhire rampung juga le ngetik… He he he… cerita sederhana kok… Biasa banget, tapi bukan sekedar cerita fiksi. Mama ngerti kan siapa anak yang diceritakaken mau?
Sip lah…
Happy Birthday Ma… May Allah always be with you…
Thanks for everything….

NB :
Salam manis and kecup sayang nggo zaky ya? Zaki… Miss U, muah… he he he
And buat keluarga di Banyumas, special thanks for Mba Nura, ingkang sampun berkenan membantu terlaksananya rencana ini (wuih bahasane gado2)
Lan kangge Mbah Uti, maturnuwun ya Mbah nggo kabehan, … ria dongakaken, ben bisa munggah kaji. Amin…
Buat semuanya aja yang sayang ibuku dan adekku… makasih banya…..k
Bye bye
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh… (^_^)    3rd Jan, 08
Your lovely doughter,

RIA

Otak dan relaksasi

Januari 3, 2009 - Leave a Response

KONDISI ALFA
Ada suatu waktu ketika Anda merasa tenang sekali, seakan berada pada puncak kegembiraan dan ketenangan tiada tara. Mirip pengalaman Aha! (Aha! Experience) dari Abraham Maslow. Pengalaman puncak itu adalah pengalaman ketika seseorang merasa bersatu dengan alam raya. Dalam pengalaman puncak itu, “seseorang menjadi lebih dari diri sendiri, lebih mewujudkan kemampuannya dengan sempurna, lebih dekat dengan inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia”.
Keadaan alfa ini pernah digunakan oleh tim olimpiade Jerman Timur tahun 1964 untuk memperoleh prestasi yang baik. Akademi olah raga di Canberra bahkan menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum. Para pemain golf di Canberra — sebelum mereka memukulkan stik golfnya ke sebuah hole — mereka secara fisik masuk ke  keadaan alfa secara cepat dan membayangkan bahwa mereka memukul dengan sempurna.
Tidak itu saa, metode belajar yang populer dengan istilah Quantum Learning secara tak langsung menciptakan keadaan alfa ini ketika belaar. Rekayasa lingkungan yang nyaman, antara lain melalui musik, membuat otak berada dalam keadaan jernih, relaks, tetapi siaga.
Tanpa bermaksud bergurau, Maxwell Cade yang menulis The Awakend Mind dan Michael Hutchinson yang menulis buku Mega Brain, setelah meneliti para biksu Zen, pendeta, dan para profesional, menyatakan bahwa untuk masuk ke keadaan alfa kita butuh waktu 15-20 th bermeditasi! Sekali lagi, 15-20 tahun! Artinya bila Anda memulai meditasi secara serius pada usia 20 tahun, maka nanti pada usia 40 tahun baru Anda berhasil, secara mandiri dan semaunya, dapat masuk ke kondisi alfa ini.
Namun pernyataan Cade dan Hutchinson itu hampir tidak berarti lagi. Seseorang bernama Sean Adam, psikolog motivasional dari Amerika, berdasarkan penelitiannya pada meditasi dan keadaan trance, berhasil “memampatkan” waktu yang demikian lama itu. Ia berhasil “mencangkokkan” gelombang alfa itu melalui program yang dinamakan alphalearning. “Hanya” dengan kursus beberapa hari saja, dan dengan bantuan komputer, seseorang dapat masuk ke keadaan alfa.
Caranya? Mula-mula dilakukan tes EEG untuk mengecek kemampuan Anda dalam membaca dan belajar, mendengarkan, menutup mata untuk santai. Kemudian Anda diberi soal matematika dan disuruh mengambil keputusan. Berdasarkan ini lalu ditentukan berapa frekuensi dari pelbagai kondisi otak Anda : saat siaga dan terjaga, belajar, keadaan konsentrasi penuh, dan saat santai, atau tidur ketika seseorang tidak merasakan sakit. Dengan sebuah komputer, berupa mesin otak Inner Quest, Anda “diajak” menuju keadaan teta.
Cara Adam di atas walaupun baik, tetapi terlalu sulit dan mahal. Pada praktisnya, tanpa rekayasa apapun, seseorang sesungguhnya bisa berada dalam keadaan alfa. James Watt yang menemukan solusi kamar mesin ketika sedang berjalan santai, Rowan Hamilton ahli matematika yang memecahkan persoalan pelik persamaan matematisnya ketika berjalan bersama istrinya pada sore hari, Otto Loewi yang menemukan mekanisme kimia di ujung-ujung saraf (yang membuatnya mendapat nobel kedokteran dan psikologi pada tahun 1936) ketika sedang tidur dan bermimpi, atau Watson dan Crick yang menemukan struktur dobel heliks gen-gen pada manusia. Keadaan alfa sesungguhnya mudah dimasuki. Tentu disamping harus ada kemauan

Relaksasi

Januari 3, 2009 - Leave a Response

TAHAP RELAKSASI MENURUT HERBERT BENSON
1.    Pilih kalimat pendek. Sebaliknya, kalimat yang berakar kuat dalam diri. Karena kalimat ini akan menjadi focus relaksasi.
2.    Duduk tenang dalam posisi nyaman.
3.    Tutup mata perlahan.
4.    Kendurkan otot-otot tubuh.
5.    Tarik nafas perlahan dan teratur. Secara bersamaan, ulangi kata atau kalimat, atau mungkin doa, yang menjadi focus. Lakukan berulang sambil mengembuskan nafas.
6.    Ambil sikap pasif. Jangan dulu khawatir berhasil atau tidaknya kegiatan relaksasi ini. Jika ada pikiran lain yang merembes masuk, katakana saja kepada diri:”tidak apa-apa”, dan secara perlahan lanjutkan doa dan kata focus tadi.
7.    Lakukan selama sepuluh menit atau dua puluh menit.
8.    Saat usai, jangan langsung berdiri. Teruslah duduk tenang selama satu menit atau lebih. Kemudian bukalah mata secara perlahan. Duduk lagi selama satu menit atau lebih sebelum berdiri.
9.    Lakukan kegiatan ini minimal sekali sehari.

SHALAT DAN RESPON RELAKSASI
Menurut Herbert Benson, kombinasi antara teknik relaksasi yang baik dan kuatnya keyakinan merupakan factor kunci keberhasilan relaksasi. Benson telah memberi contoh beberapa doa – dalam beberapa agama – yang dapat menjadi kata focus ketika seseorang melakukan meditasi atau tafakur.
Shalat yang dilakukan secara serius dapat menjadi sarana respons relaksasi tubuh yang lebih baik. Niat yang ikhlas, yang dipatrikan ketika hendak shalat, merupakan awal yang baik dalam memunculkan reaksi relaks dari tubuh. Tekad yang diucapkan melalui doa iftitah memberi suasana yang memudahkan konsentrasi bagi pikiran. Konsentrasi pikiran adalah kunci keberhasilan shalat. Sekaligus, dalam aspek yang lain, kunci kesuksesan sebuah relaksasi.
Konsentrasi pikiran yang berpadu dengan gerakan teratur shalat dapat menghasilkan respons tubuh, antara lain, menurunnya tekanan darah atau teraturnya dnyut nadi. Gerakan shalat itu sendiri adalah gerakan fisiologis tubuh. Artinya, gerakan itu merupakan gerakan alamiah yang mengikuti bentuk anatomis tubuh. Sehingga bagi tubuh, gerakan-gerakan itu tidak asing dan aneh. Walaupun begitu, adalah keliru menjadikan alasan relaksasi sebagai alasan melakukan shalat.

Disadur dari “Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Quran”,
Taufiq Pasiak.

UTK se2ORG…

Januari 3, 2009 - 2 Tanggapan

aku ga marah Mas, pas tadi malem Mas bilang kalau Mas mulai ngerasain sayang…
memang ada sedikit rasa kesal, tapi bukan karena itu. Bagiku semua orang berhak menyampaikan apa yang dirasakannya, dan perasaan itu adalah pemberian dari Allah. kita bahkan tak bisa mengaturnya…
Namun ketika banyak pendapatku yang kusampaikan, seakan-akan tertolak sama Mas, itu yang membuat aku rada kesal. Prinsip2 yang kusampaikan, salah satunya bahwa tak ada kata PACARAN lagi dalam kamus hidupku, Mas seakan-akan ga terima. dan aku merasa dipaksa mengikuti apa pendapat Mas. bahwa pacaran itu perlu…
itu yang menyebabkan aku berpikiran lain tentang Mas, Mas sedikit egois.
semua orang berhak menyampaikan pendapatnya, apa yang menjadi pegangan dan prinsip hidupnya.. begitupun denganku, aku punya hak untuk menyampaikannya
aku tak suka menghargai prinsip dan pendapat orang lain, walaupun mungkin sangat berlawanan dengan pendapat atau prinsipku. tak pernah ada niatan untuk membantah, atau bahkan memaksakan prinsip2ku pada orang lain, dan begitu pula sebaliknya. aku pun ga suka prinsip2ku dibantah dan disepelekan, lebih ga suka lagi kalau aku dipaksa mengikuti apa yang menjadi prinsip mereka… Salut buat mereka yang menghargai prinsip orang lain…
aku bukan anak kecil lagi yang hanya ikut-ikutan. aku memutuskan suatu keputusan atau prinsip, itu bukan omong kosong belaka, atau sekedar iseng-iseng. prinsip2ku itu kudapat dengan pengalaman dan pengambilan hikmah, dan itu ga mudah… dan ku yakin semua orang yang berprinsip, dia memperolehnya ga cuman sekedar ikut2an prinsip orang lain, tapi ada andil masa lalunya dan pengalamannya…
Jadi tolong hargai prinsip2ku… walau mungkin berbeda, bukan berarti kita ga bisa berdampingan…
Tidak ada kebenaran objektif di dunia ini, tidak ada prinsip yang benar-benar objektif kebenarannya di dunia ini…
kecuali prinsip2 yang didatangkan oleh Allah…
aku ga muluk-muluk kok, misalnya saja, kenapa aku ga pacaran, karena Allah ga pernah membahas kosa kata itu dalam perintah-perintahNya…
kenapa aku ga menyentuh yang bukan muhrim, karena ku tahu Allah ga suka itu, dan masih banyak lagi…
aku cuma belajar untuk lebih objektif menurut pandangan Allah, masih dalam taraf belajar
aku ingin menyukai apa yang disukaiNya, membenci apa yang dibenciNya
Salahkah seperti itu?
hidup itu hanya sebentar, ga ada yang abadi di dunia ini kan? aku merasa baru kemarin aku SD, berkumpul dengan ayah ibu dengan kemesraan semu mereka,
ternyata waktu itu sudah lama sekali berlalu… dan sebentar lagi tanpa terasa, rambutku beruban, tanpa terasa aku akan menemui ajal…. Insya Allah..
dan aku sudah memasrahkan tujuanku padaNYA, aku adalah miliknya, dan kepadaNYA lah aku akan kembali.
Dia lah tujuan ku…
ketika kita ingin pergi ke Aceh, tujuan kita adalah Aceh, bukankah kita harus cari tahu dulu, karakter Aceh itu seperti apa. dinginkah atau panaskah? dan kita mempersiapkan diri untuk keberangkatan kita , mempersiapkan bekal apa saja untuk hidup di sana. setelah itu, bukankah kita juga harus tahu bagaimana cara kita untuk sampai ke sana? agar kita mencapainya….
begitupun ketika aku putuskan bahwa tujuan hidupku adalah Dia, maka aku harus tahu ilmu tentangNYA, apa yang disukainya, apa yang tidak disukaiNYA. bukan itu saja, aku pun harus terus belajar mencari tahu bagaimana agar aku bisa mencapai tujuanku itu kan?
Masing-masing orang memiliki tingkat ilmunya masing-masing, dan semakin tinggi ilmunya, kesempatan itu semakin besar untuk bisa mencapaiNya. walaupun aku yakin betul, sampai dunia kiamatpun ilmu itu tak akan pernah habis. oleh sebab itu aku harus belajar terus untuk menjadi lebih baik, agar aku bisa kembali padaNya dalam keadaan terbaik, keadaan yang paling baik selama aku ada di dunia ini..
Dan agar aku bisa menemuiNya dalam keadaan paling berbahagia dalam hidupku, dalam keadaan tersenyum dan cinta padaNYa…
itulah sebabnya kenapa aku berprinsip ini dan itu… dan tolong hargailah, karena aku mengambil suatu prinsip tak akan jauh-jauh dari apa yang diperintahkanNYA..
karena dialah satu-satunya kebenaran yang sebenar-benarnya… ga akan tendensius, ga akan pernah subjektif untuk menguntungkan suatu pihak…
tapi keuntungan itu bagi semuanya kok…
Maaf, Sorry I have to say this…
Dan aku berdoa, semoga Allah akan selalu membuat kita semakin baik dan semakin baik lagi….
memang banyak hal yang ga nyambung dengan inti permasalahan, aku hanya bermaksud menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku, jadi tolong dimaklumi andai kalimatnya membingungkan… Mas ga harus berfiikir seperti yang aku fikir, tapi aku yakin Mas sekarang akan memandangku dengan cara pandang yang berbeda dari sebelumnya….
terima kasih buat semuanya…

Pecundangkah kau?

Januari 3, 2009 - Leave a Response

akan aku gambarkan hidup seseorang yang tanpa tujuan…
dia tak tahu apa impiannya…ataupun ketika dia memilikinya, dia akan merasa tak akan pernah meraihnya… jadi sia-sia saja dia bermimpi…
dia tak tahu apa yang ditakutkannya…padahal sebenarnya kegagalan yang ditakutkannya..
dia tak melihat adanya harpaan…padahal dengan harapan itulah seseorang bisa hidup
dia tak tahu kemana dia harus pergi…padahal waktu tak pernah menunggu sampai dia menemukan apa yang menjadi tujuannya itu
dia gelisah, takut, kecewa, sedih, tanpa alasan… padahal dia tahu bahwa itu tak nyaman
dia ingin berubah…tapi semua hanya diangan-angankan saja..karena ia malas untuk berubah…jadi buat apa angan itu? buang saja
dia hanya melihat bahwa dunia ini kejam, menakutkan, dan mempermainkannya saja…
padahal yang sesungguhnya adalah dia yang dipermainkan oleh dirinya sendiri…
dia tak akan pernah menemuka jalan keluar dari masalah apapun yang menimpanya, karena kebiasaan dia yang hanya meratapi tanpa mencari apa solusinya
dia merasa orang paling malang sedunia, padahal semua ada di sekelilingnya
dia akan menjadi buta, tuli, pincang, cacat… dan pada akhirnya mati sebelum alam menguburnya
dia hanya menjadi mayat hidup yang tak berguna
jangankan memberikan manfaat bagi sekitar, untuk berdiri sendiri saja ia tak sanggup
kemudian dia mati tanpa tahu kemana setelahnya ia akan pergi
padahal maut tak kenal kompromi… akhirnya tak ada seorangpun yang menghargainya, karena diapun tak bisa menghargai dirinya sendiri
kehilangan makna hidup, atau malah belum menemukan apa makna dari hidup ini
bisa jadi dia tahu apa yang dia rasakan sekarang
bisa jadi dia sadar ia akan menjadi pecundang
sayang sekali dia tak mau berusaha, atau tak tahu harus berbuat apa
hanya menunggu uluran tangan tanpa mau memikirkan jalan yang harus dibuatnya sendiri
tanpa sadar dia menjadi pengemis kehidupan…
menggantungkan nasibnya pada orang lain
padahal orang lain sibuk untuk membuat nasibnya sendiri untuk jadi lebih baik
padahal tak ada orang yang mampu membantunya kecuali dirinya sendiri
ingin berubah… tapi di mulut saja
tak akan ada orang yang percaya kalau dia mau berubah
omong kosong belaka….
baginya yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, silahkan renungkan sendiri
dan berinisiatiflah untuk berbuat sesuatu…
mintalah saran, bukan minta untuk digantungkan….
karena kalau sampai itu terjadi… berarti orang yang sok kuat mampu digantungi nasibnya itu,
dia pun pecundang….
Sorry …. i have to say that..
karena jaman sekarang akan semakin banyak melahirkan pecundang2 baru yang mengaku-aku pemenang
semua orang berhak berpendapat…  masing-masing orang akan bertanggung-jawab atas diri mereka masing-masing
termasuk aku..
silahkan pilih saja, selamanya jadi pecundang, atau ingin berubah esok (sekedar ingin, semua orang juga bisa)
padahal mungkin esok kau sudah mati…
atau berubahlah dari sekarang, dari kecil, dan tentunya dari dirimu sendiri…
tak perlu sibuk mengurusi orang lain
melihat keburukan dan kekurangan kita, itu sudah cukup membuat kita sibuk…

For My BestFriend

Januari 3, 2009 - Leave a Response

tahukah kamu bahwa kita sangat berbeda
sadarkah kau bahwa kita berdiri di sisi yang berlawanan
kamu selalu berfikir dari segi yang negatif
dan aku selalu memandang segala sesuatu dari yang positif
kau yang pesimis
dan aku yang optimis
aku tak menyalahkan salah satu diantara kita
dan tak mencari mana yang lebih baik
karena aku tahu tak ada yang objektif di dunia
penilaian di sini hanya ada karena kita subjektif
bukan berarti aku tak pernah berada di posisimu
aku pun pernah berada di posisimu
tapi aku mau berubah
dan aku mau berhijrah untuk jadi yang lebih baik
apa aku sampai di sini dengan omong kosong belaka?
sekali-kali tidak
aku bergerak
aku melangkah
aku terseok
aku terjatuh
tapi setidaknya aku tak hanya diam dan berangan-angan
aku bekerja keras untuk sampai di hari ini
jangan dikira aku tak menemui tantangan dalam niat hijrahku itu
tantanganku adalah diriku sendiri
jadi kenapa kamu hanya diam padahal kamu ingin pergi?
bukankah semua butuh pengorbanan dan tindakan?
atau hanya akan kalah sebagai pecudang yang banyak impian
tanpa mau berusaha mewujudkannya
karena hidup adalah pilihan
dan akan selalu ada pilihan
kecuali persepsimu memang tak pernah ada pilihan…
maka itulah yang akan terjadi padamu
kalah sebelum berperang
mati sebelum dikuburkan
hidup seperti mayat hidup tanpa ada tujuan
terombang-ambing terbawa keadaan
tanpa prinsip dan pegangan yang membuatmu hebat
mau mati sebagai pemenang?
atau malah mati sebelum kematian itu datang?
now, your turn to choose…

Kenapa Nangis Pak?

Januari 3, 2009 - Leave a Response

mungkin sudah bertahun-tahun aku tidak sholat berjamaah dengan bapak. petag ini, Allah memberiku kesempatan padaku untuk merasakannya lagi. aku tak ingat kapan terakhir kali aku bermakmum sama bapak. sepertinya sudah sangat-sangat lama… lama sekali…
hhh………. aku tak tahu perasaan apa yang terjadi saat itu…
di rakaat pertama bapak masih membaca suratan dengan lancar, di rakaat kedua… suaranya terdengar sedikit bergetar…. seperti orang menahan tangis… tapi aku berusaha konsen ke sholat, jadi aku sudah tak memperhatikannya lagi..
setelah salam, bapak terdiam… dan aku bisa dengar isak tangis tertahan dari bapak. awalnya aku bisa menahan air mata yang seakan ingin menyertai tangis bapak. namun, ternyata tetap saja ada beberapa butir air mata yang ikut mengalir….
dalam hati aku bertanya, mengapa bapak menangis? dan sebenernya ingin menanyakan itu ke bapak, tapi…. aku tak tahu caranya…
segera aku hapus air mata yang tak diundang itu, aku ga mau bapak melihatku menangis, aku ingin bapak selalu melihatku tersenyum dan tak pernah merasa bersedih, aku pingin bapak selalu melihatku kuat dan tegar…
walaupun…. di dasar hatiku… aku menangis sedih…
Ibu… dan Bapak, aku sayang banget sama kalian…
hanya saja aku tak tahu cara mengungkapkannya…
aku ingin kalian tahu, kalau aku kuat, aku tegar, dan aku bahagia
aku ingin kalian selalu melihatku tersenyum..
aku tak ingin kalian tahu, kalau sebenernya dalam hati kecilku aku sering kesepian, menangis sendirian, mencari teman untuk kusandarkan kepalaku ke pundaknya…
aku tak ingin kalian tahu, bahwa aku kadang lelah….
dulu aku sering bertanya, kenapa mesti aku ya Allah? kenapa aku yang mengalami cobaan seperti ini?
dan sekarang, aku tahu jawabannya…
karena Allah tahu aku kuat memikul ujian ini
dan aku pun tahu sekarang, memang aku mampu melewatinya…
Always learn to love U, ya Rabb
aku percaya padaMu…
Thanx 4 all….
30 Desember 2008 21.30

lirik lagu

….

takkan pernah ada yang lain di sisi
segenap jiwa hanya untukmu
dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
kuingin kau di sini
terpiskan sepiku bersamamu….
hingga akhir waktu…

….

Pak, Ma, takkan pernah ada yang lain…
sampai kapanpun…
ibuku, Sri Riyanti
dan bapakku, Sutarno…

Ya Allah, terima kasih.. walau cuma sebentar, Engkau masih memberi kesempatan padaku untuk merasakan apa itu keluarga…

KODRAT BERBAHASA

Desember 24, 2008 - Leave a Response

Otak adalah bagian tubuh yang tersulit untuk dipelajari
E. Fuller Torey

Ketika akan menuju medan laga, seorang jenderal besar di kota Delphi (Romawi) berkunjung ke sorang dukun terkenal. Ia bermaksud meminta ‘azimat’ atau ‘kata-kata bertuah’, nasihat atau apa saja yang bias dijadikan azimat kebal peluru. Ia tidak ingin mati. “Kalau menang dan tidak mati”, piker jenderal besar itu, “siapa tahu saya bisa menjadi penguasa Romawi.
Ketika bertemu dengan sang dukun ia pun menyampaikan maksudnya. “Tenang saja”, kata sang dukun memulai nasihatnya. “Ibis redibis numquam peribis in armis”, lanjut sang dukun. Mendengar itu, wajah sang jenderal tiba-tiba cerah. Ia pulang dengan semangat membara, meloncat-loncat gembira, dan siap memenangi peperangan.
Walhasil? Malang nian nasib sang jenderal. Ia kalah perang, tidak menjadi penguasa Romawi dan paling tragis ia gugur di medan laga dengan ratusan tusukan di tubuhnya. Keluarga sang jenderal marah besar pada sang dukun. “Engkau pendusta. Engkau berkata ia akan memenangi perang dan tidak gugur”, kata sang istri sang jenderal dengan wajah merah marah. “Siapa bilang aku berkata begitu”, timpal sang dukun tak kalah sengit. “Aku hanya bilang “Ibis redibis numquam peribis in armis”, lanjutnya.
Rupanya sang jenderal salah mengerti. Ia mendengar itu sebagai dua buah kalimat yang terpisah sesudah kata redibis (menjadi Ibis redibis, numquam peribis in armis) dan berarti “Engkau akan pergi, akan kembali, dan tidak gugur di medan perang”. Padahal, sang dukun memaksudkannya Ibis redibis numquam, peribis in armis (tanda koma setelah numquam) dan berarti “Engkau akan pergi, tidak akan kembali dan gugur di medan perang”.
Apa yang tersirat dan tersurat dari cerita di atas? Kata-kata ternyata memiliki kekuatan yang dahsyat. Kata-kata bukan saja rangkaian huruf-huruf, melainkan juga sarat “beban”. Ada muatan di dalamnya. Semua yang menjadi muatan kata-kata harus dapat dipahami secara jelas untuk menemukan semangat yang dibawanya. Ilmu komunikasi memiliki prinsip: Words don’t mean, but people mean. Muatan kata-kata justru terletak pada penafsiran masing-masing orang.
Kisah di atas juga sangat dramatis, menggambarkan apa yang oleh ilmu bahasa dan ilmu komunikasi modern disebut PERSEPSI. Menurut sebagian besar filosof, dunia ini adalah tempat ia ditangkap, dan terutama dipersepsi, oleh panca indera dan otak.
Bagi dua orang atau lebih, tidak ada dunia atau fakta yang benar-benar objektif. Anda dan saya boleh melihat kuntum yang sama, kita boleh mencium aroma yang sama. Namun, bagaimana bunga itu memberi pengaruh pada diri kita masing-masing, itu adalah persoalan berbeda. Barangkali, bunga itu akan mengingatkan Anda pada seseorang yang pernah Andai cintai. Bagi saya, bunga itu mengingatkan tugas mata kuliah dulu. Ketika tentamen akhir mata kuliah, dan saya gagal. Bunga itu bagi Anda menyenangkan, tetapi bagi saya menyebalkan.
Persepsi adalah pekerjaan otak. Bila sensasi (masuknya impuls atau informasi melalui panca indera) terjadi pada ujung-ujung saraf, maka persepsi terjadi pada pusatnya di otak. Mungkin ini pekerjaan yang berat bagi otak. Mengapa? Karena persepsi membentuk pikiran dan cara berpikir. Komponen paling penting dari berfikir adalah mempersepsi.
PERSEPSI MELIBATKAN HAMPIR SEMUA KOMPONEN OTAK, TERUTAMA PUSAT-PUSAT PENGERTIAN DAN EMOSI.

Disadur dari “REVOLUSI IQ/EQ/SQ”, Taufik Pasiak.

Pertanyaannya sekarang adalah… APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KITA DENGAN KECERDASAN SQ (SPIRITUAL QUOTIENT) YANG DIANGGAP KECERDASAN DALAM HAL SUDUT PANDANG???

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Desember 24, 2008 - Leave a Response

Ditulis oleh Hafez di/pada September 12, 2008

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :

“Makanlah nak, aku tidak lapar”
———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.

Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.

Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam,
besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”
———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku dibawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.

Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku:
“Aku tidak terbiasa”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang
keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini.
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata:

“Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan:

” Terima kasih ibu ! “

ZAKY…I MISS U SO MUCH…

Desember 24, 2008 - Leave a Response

A I…gi ngapa ya? Yayu kangen loh…pingin telpon a i, tapi….yayu urung siap ngomong karo ibu…
a i, ra telat maem kan? walaupun a i ditinggalaken bapak, rapapa ya? ana yayu karo ibu, yayu sayaaaaaang banget karo a i, mbesuk a i melu yayu ya? a i kudu dadi wong sukses dunia dan akhirat, dadi manusia sing bis gawe bangga Allah, gawe bangga ibu, bapak, and yayu donk. a i kuat kok, a i pinter, yayu tahu itu… baik2 ya di rumah, temani ibu, yang sabar nek lagi dimarahi ibu, ibu tuh sayang banget sama a i, begitu juga dengan bapak ai. tetep baik sama bapak ya? walaupun a i ga bisa ketemu sama bapak. be strong… yayu sayang and lagi kangen banget ma ai.. yayu pingin ketemu a i… doain yayu juga ya? kiss jauh dari yayu untuk a i… salam buat ibu ya? T_T ——–(^_^) senyum donk sayang…….