Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Dare or Not? Menampar angiiiiin>>>>
Januari 28, 2011

Terlewati banyak waktu sebelum akhirnya bisa menampar angin malam seperti ini. Terlewati banyak tahun sebelum akhirnya bisa bersama motor untuk kebut-kebutan seperti malam ini. Jauh-jauh dari Jakarta ke Sukabumi aku tak mau pulang dengan rutinitas yang sama, tidur. Kalau tidur, di Jakarta pun aku bisa. Tapi malam ini lain, megapro di genggaman, bensin siap ditumpahkan, nyali siap dikuatkan, adrenalin siap dikumpulkan.

Mungkin waktu sudah menunjuk jam 00.00 ketika hawa dingin menampar pipiku di tengah jalan. Awal yang perlahan, pelan tapi pasti bahwa motor tetap berjalan dalam track. Menit berlalu, tungganganpun mulai menderu. Jalanan sepi seakan tahu kebutuhanku untuk melepas adrenalin yang bertahun-tahun tak teruji.

Akselerasi ditancapkan, kopling pun disiagakan. Rem tangan pakem bak busur yang menembus sasaran, rem kaki selaras dengan laju kaki kanan.

Udara dingin seakan tak menghalangi untuk tetap asyik dalam angin yang lebih dari menampar, seakan manghajar dan menghantam. Air mata yang berkali-kali mengalir sudah tak mampu lagi menghentikan serunya hidup dalam lingkaran tantangan. Sesekali mobil dari arah berlawanan, berlomba untuk mendapat line di jalanan. Berebut dengan waktu dan ketepatan sasaran, begitu juga dengan motor-motor yang saat itu memang sedang diperlombakan.

Menang atau kalah, bukanlah masalah. Hidup atau mati, itu sudah resiko yang mesti dihadapi. Mungkin orang bilang, buat apa, atau bahkan ada yang bilang “edan”. Tapi ini semua masalah ambisi, bukan prestisi ataupun upaya rekonstruksi. Semua murni ambisi…

Kecepatan sudah tak di angka puluhan, jalanan tetap menantang untuk ditaklukan. Gelapnya malam dan dinginnya sekitar menambah keinginan untuk menambah kecepatan. Berkali oleng, tapi tak mengapa, karena segera mampu untuk menyeimbangkan beban. Kadang aku berfikir, memang kita butuh beban untuk menyeimbangkan motor agar tidak mudah oleng saat kecepatan tinggi. Seperti inilah hidup, kita butuh beban untuk menyeimbangkan kuasa agar tidak mudah oleng saat kecepatan kesuksesan kita tinggi. Atau malah mungkin kita butuh beban sepersekian persen agar kita bisa mencapai kecepatan yang kita inginkan. Who knows??

/*

F=m.a

a=F/m

Dari rumus aja keliatan bagaimana massa beperan peting dalam kecepatan atau progres hidup kita. Tidak asal nge-gas ajah, tapi harus mikir massa kita

*/

Ujung ke ujung sudah terlewati, dengan tantangannya sendiri-sendiri. Kadang jalan memang bopeng, kadang sirine polisi sangat mengganggu, bahkan mobil mobil lain seakan tak mau memberi jalan. Namun tunggangan sudah tak mungkin lagi terhentikan atau berkurang kecepatan, hanya bisa menghindar atau menerjang. Salabintana terjamah, Sukaraja sudah habis diambah, seakan habis jalan ini tercicipi oleh gilasan roda. Tanjakan, turunan, belokan, biasa. Jumping, miring… a little of standing, sudah..Cukup?? Tentu tidak.. See next chapter, for a new challenge…

What next???

Tx buat someone… What a great night!!!

Iklan


Januari 21, 2011

Tuhan, betapapun aku berusaha melupakannya, aku tetap belum bisa melupakannya.

Allah ku yang Mulia, seberapa besar aku ingin membuang jauh kenangannya, hanya sesak yang ada di sana.

Benarkah apa yang kulakukan ini?

Setujukah Engkau dengan keputusan yang telah kuambil ini?

Aku bertingkah seolah aku tak pernah merasakan patah hati

Namun semakin aku berpura-pura, semakin dalam kejujuran dari hati ku ini ya Allah

Bahwa aku merindukannya, bahwa dia berarti dan penting untukku..

Ya Allah, aku tak ingin lagi menyandingnya dalam masa depanku

Biarlah lembaran baru itu kulewati tanpa mesti ada goresannya

Namun Tuhan, sebegini beratkah ujian yang harus kulewati?

Seperti meninggalkan jantung untukku hidup

Seperti mengorbankan raga untukku berjalan

Akankah kau menghapusnya untukku?

Berkenankah kau ganti dia dengan yang lebih tepat untukku?

Aku percaya padaMu,,,

 

Kenapa?
Januari 15, 2011

Tuhan…
Kenapa selalu ada akhir di setiap permulaan?
Tuhan kenapa selalu ada sedih setiap ada tawa?
Kenapa selalu ada kenangan di setiap ada keindahan?

Mengapa tak seperti robot yang tak pernah berada di posisi manusia? tak pernah ribet dengan perasaan susah senang, sedih bahagia, cinta dan benci?
Apa yang kau harapkan dari perputaran hati ini?

Ketika ALLAH mengijinkanku menghentikan WAKTU!
Januari 8, 2011

Andai waktu itu mau menurutiku, mungkin tak akan begini jadinya. Seandainya jarum jam di seluruh dunia berkenan mengabulkan pintaku, mungkin tak akan begini jadinya. Satu-satunya cita yang mungkin tak akan pernah tercapai dalam hidupku adalah menghentikan hal simpel yang biasa dipanggil “waktu”.
Seandainya waktu mau menurutiku…
Mungkin berita-berita kecelakaan di saat sarapan pagi, tak pernah ada. Mungkin berita-berita perceraian artis sebagai santapan rohani ibu2, pun tak kan pernah ada. Andai waktu berhenti sebelum itu semua terjadi…

Seandainya waktu menurutiku…
Mungkin tak akan pernah ada wanita2 yang tersakiti, karena sebelum pria-pria hidung belang menyakiti mereka, waktu akan aku berhentikan dan memutarnya kembali ke arah yang sebaliknya.

Seandainya saja waktu mau menurutiku,
Mungkin tak akan pernah ada kata perpisahan, selamanya terjebak dalam kehangatan sebuah keadaan…

Tapi andaikata bisa pun, andaikata Allah memberiku jackpot untuk mengabulkan mimpiku itu, tentulah aku tak tega melakukannya. Karena waktu bukan hanya milikku. Semua orang punya waktu..
Katakan saja aku bisa menghentikan waktu sebelum kecelakaan terjadi, tentulah si redaksi media masa akan bersedih, karena dia berharap waktu tetap berjalan. Atau mengijinkan waktu berhenti, minimal tidak di saat itu.
Katakan aku bisa menghentikan waktu sesaat sebelum sidang perceraian dilaksanakan, tentu hakim akan merasa dipermainkan dengan itu.
Katakan aku bisa menghentikan waktu sebelum wanita merasa tersakiti, tentu para wanita akan selamanya menjadi mahluk lemah yang tak pernah belajar untuk “menjadi kuat”.
Katakan aku bisa menghentikan waktu di suatu keadaan sehingga tak pernah ada kata “akhir”, mungkin akan ada beberapa orang yang bersedih, sebab di saat itu dia ingin waktu itu segera berakhir. Saat yang bagiku hangat, bisa jadi adalah neraka baginya…Padahal kita ada di dimensi waktu yang sama…
Tegakah aku memakai jackpot yang diberikan Tuhan untuk menghentikan waktu??
Sebegitu egoiskah aku hingga tak melihat kenyataan bahwa “waktu” bukan hanya milikku saja?

Think before Ink!!
Lho???

Adopted but Not Addicted…
Januari 6, 2011

Aku sudah berada di ujung hari ketika menulis ini. Tak pernah menyangka aku akan merindukan ini semua. Tempat IST yang awalnya sungguh tak ingin kulihat. Tempat belajar yang pada awalnya tak ingin aku kunjungi, bahkan tak pernah ingin aku terjuni. Tak sangka semua berbalik…

Pada saat pagi menjelang, ketika mata tak terbiasa dengan sinar yang berbeda di Sukabumi, semua terasa tak pernah mudah. Seperti menelan air di saat semua lambung telah terpenuhi. Namun seperti halnya ganja yang memabukkan dan membuat si penderita sakit karena tak mengonsumsinya, seperti inilah keadaanku. Udara dingin yang bisa saja membunuhku sewaktu-waktu, seakan menjadi kawan. Benar kata orang, jadikanlah musuhmu menjadi kawanmu… Maka kau akan menemukan tempat paling aman. Karena tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya.

Seakan telah tergambarkan dan tergariskan, air keadaan mengalir seolah tak pernah ada “saat pertama”. Mengalir membawa radang bernama “terbiasa”. Aku mulai terbiasa dengan perjalananku menuju tempatku belajar. Aku mulai terbiasa dengan bahasa yang dulunya kuanggap bahasa planet. Aku mulai terbiasa dengan selengekan serta guyonan yang kadang menghadirkan gelak tawa ataupun air mata. Kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya bukan hanya membiasa, tapi mulai teradopsi dalam kebiasaanku sendiri.

Di sini, tak hanya ada rupa kebaikan, bahkan rupa kebatilan pun aku bisa tahu. Tapi peduli amat dengan semua itu, aku terlalu terlena dengan deru hal-hal baru yang mulai kunikmati. Walaupun “kesendirian” seolah tak pernah mau memisahkan ragaku darinya. Aku larut dalam suasana ini, dalam hingar bingar ini. Sering kuteriakkan jerit suara hati, lantang dan menantang. Masih aku tak peduli. Kadang aku bertanya kenapa, bagaimana, akan seperti apa. Hanya jawab kosong yang mungkin tertelan dengan hiruk pikuk keramaian pesta pora hati.

Pelan sudut kecil bola mataku melihat, ada seseorang di sana. Biasa dan teramat sederhana. Perhatian yang sederhana, tugas yang sederhana, dan kasih sayang yang sederhana. Melihatnya menyadarkanku dari gelak euphoria yang sedang kualami. Lirih hati yang telah lama terjepit akibat kelalaianku, memintaku untuk berhenti sejenak. Tak terasa langkah kaki penuh nanahku ini mendekatinya, memintanya menarikku dari semua ini. Lelah yang teramat sangat hingga membiasa, menelan tubuhku mentah-mentah. “Tolong”…jeritku padanya.

Dia yang sederhana itu menyentuh tepat di hati yang teramat lelah itu.. Cukup secukupnya… Namun air perhatiannya merupakan darah bagi tandusnya nuraniku.. Dan aku mulai sadar, bahwa ini semua hanyalah mimpi yang akan semakin menusukku dalam candu yang lainnya..

Desah Terlarang
Januari 5, 2011

Melihatmu…sudah cukup membuatku bahagia…
Apalagi ada di dekatmu, cuma ada satu kata…
Nyaman…
Tapi udara pun mengatakan…”lupakan saja”…
Maafkan aku yang memang belum bisa menurutinya..
Angin…ijinkan aku memiliki rasa ini meski aku tahu
Semua ini akan terlupakan
Seperti yang sudah sudah…

Hidup katanya pilihan, oh really?
Mei 11, 2010

Begitu kata temenku…tapi ada juga yang bilang, aku tak pernah punya pilihan. So, sebenernya yang bener yang mana?
Yuk kita tinjau lebih jauh…atau lebih dalem…

Pilihan…berasal dari kata pilih. betul?
Sesuatu yang ada di dunia, bisa disebut namanya berarti bisa diwujudkan… termasuk pilihan…

Orang-orang yang sekarang bilang bahwa mereka ga punya pilihan karena mereka memilih untuk tidak memilih…
mereka memilih untuk tidak memilih

Sebenernya Rasulullah MOnogami
Januari 16, 2009

lho Kok? Ya kebanyakan di luar sana hanya menyoroti tentang Rasulullah SAW yang berpoligami. Mereka lupa kalau Rasulullah pun pernah bermonogami, hanya memiliki satu istri. Kesetiaan tiada tara… Saat beliau beristrikan Khadijah.
Rasa sayang beliau kepada istrinya, Khadijah sudah menjadi buah bibir di kalangan wanita yang mendambakan kasih sayang dari suaminya. Apakah beliau pernah melirik wanita lain saat itu? Ga kan? Sampai Khadijah meninggal dunia, Rasulullah SAW tetap setia, bahkan begitu menjaga perasaan istrinya tersebut. Walaupun sudah meninggal, Rasulullah SAW masih sering menyebut-nyebut nama Khadijah, sering memujinya, dihadapan Aisyah, sampai Aisyah cemburu dibuatnya. Betapa beliau sangat menyayangi Khadijah…
Kenapa cowok-cowok ga mencontoh Rasulullah SAW di fase itu? Ya Allah… lindungilah saudara-saudaraku, dari nafsu mereka, hidupkanlah hati nurani mereka, jangan matikan itu… agar mereka mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang kebanyakan…
Mbok nyonto itu? Kesetiaan abadi dari Rasulullah SAW terhadap Khadijah???
Kok yo ngeributin poligaminya… Lha wong Rasulullah SAW itu ga pernah berbicara dengan nafsunya kok.
“Itu kan Rasulullah, aku kan manusia biasa”, celetukan nakal dari luar sana.
Nah makannya, ditiru… Adanya utusan Allah kan agar bisa diteladani. Belum apa-apa kok udah bilang ga bisa. Ga bisa apa ga mau??? Nah to, nafsu tuh yang ngomong.
Sekarang terserah elo elo pade. Nek aku ya berdoa agar aku memiliki seseorang yang bisa mencontoh kesetiaan Rasulullah SAW kepada istrinya, Khadijah.
Walaupun akupun rela andaikata harus dipoligami, asalkan… yang dijadikan landasan bukan nafsu, tapi ilmu….
Wallahua’lam bishawab….

POLIGAMI??NAFSU ATAU ILMU?
Januari 16, 2009

Jangan keburu emosi Coy… mbok dibaca dulu. Tapi nek ga dibaca, juga gapapa kok, bukan aku yang rugi, sampeyan yang rugi. He he he.Sengaja aku ambil judul itu, yah… buat kontroversi ajah… Kenapa aku ngambil judul itu? Yah ini nanti akan kuceritakan selengkapnya di bawah. Tapi karena memang intinya banyak yang menyalahgunakan kebolehan, ingat lho ya Cuma KEBOLEHAN, untuk berpoligami sebagai legitimasi keinginan atau kasarnya nafsu beberapa orang. Ini bermula ketika terjadi obrolan ga serius antara aku dengan si Fulan (bukan nama sebenarnya). Begini ceritanya…
“Assalamualaykum…”, sapanya.
“Wa’alaykumussalam warahmatullah…”, jawabku..
Dan bla bla bla bla… ngobrol ngalor ngidul ga jelas gitu deh… Sampai pada satu pertanyaan yang bikin aku tersentak.
“Ya, bagaimana pendapatmu tentang poligami?”
Mbok yakin aku ga sempet berfikir banyak, Cuma dia memaksa terus biar aku ngejawab.
“Yo boleh aja berpoligami, orang Allah bilang boleh kok. Njuk piye?(terus gimana red.)”
“Kamu mau dipoligami?”, dia nanya lagi.
“Ya mau aja, asalkan alasannya bener….”
Dia makin penasaran, “Alasan piye maksudmu. Emang alasan yang bener yang seperti apa?”
“Wah nek itu panjang, dan ga bisa diceritain lewat telepon”, aku rada ketus ngejawabnya.
“Ya bisa aja nek kamu mau”.
Orang ini bener-bener ngeyel ya?
“Wegah…(Ogah red.) “, aku bersikukuh untuk tidak menjelaskan secara detil. Kemudian aku balik nanya,
“Emang Mas udah ada niatan mau poligami po?”
Dia diam sejenak, au tuh lagi mikir atau keselak. Hua hua hua…
“Ya, ada pikiran untuk itu. Kan dengan poligami, kita bisa membantu para janda. Takutnya timbul fitnah, ya sekalian aja dinikahi. Kemudian, suatu saat nanti kami kaum adam juga akan ditimpa suatu fase, mungkin puber kedua atau apa, gejolak syahwat dan karena ditakutkan terjadi zina, ya mending kan poligami. Ya to? Dan masih banyak alasan-alasan yang lain…”
Kemudian satu persatu dia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya tentang poligami. Aku hanya ndengerin, walaupun pingin rasanya ikut menyampaikan apa yang menjadi pandanganku. Aku berusaha untuk menghormati apa yang menjadi opininya. Mungkin dia bisa ngomong seperti itu karena lingkungan keluarganya, atau lingkungan religinya itu. Karena di kalangan ulama sendiri juga terdapat berbagai macam pandangan. Dan toh nyatanya mereka juga saling menghormati. Lalu dia nanya sesuatu,
“Kenapa kamu setuju dengan poligami?”
“Ya apa ya? Karena Allah membolehkannya, udah itu aja, titik. Ga ada alasan lain. Mosok Allah bilang boleh, terus kita melarangnya? Emangnye lu siape? Tapi perlu Mas tahu, bahwa wanita manapun ketika melihat suami mereka bersanding dengan wanita lain, mereka pasti akan merasa gimana gitu, ada perasaan ga nyaman di hatinya. Tapi jujur, kalaupun terpaksa aku harus dipoligami, asal ngeliat suami kita bahagia, itu aja udah cukup membuatku bahagia kok, walaupun sakit di dalam hati. Makannya, aku nyari suami yang dia sayang sama aku, dan aku pun sayang sama dia. Suami yang sayang sama istri, pasti akan berusaha sekali untuk menjaga perasaan istrinya kan? Jadi sebisa mungkin ga akan berpoligami to? Dan sebenernya masih banyak yang mau aku omongin, tapi ga sekarang. Pastinya tentang poligami. Intinya aku rela aja dipoligami, asalkan yang berbicara bukan nafsu, melainkan ilmu. Nah, padahal yang tahu itu nafsu atau bukan, itu kan hanya dianya sendiri dan Allah. Betul to?”

Pembicaraan tadi membuatku berfikir, dan ingin berbagi dengan elo elo pade… Sebelum melaksanakan sesuatu, carilah dulu ilmu tentangnya, ya kan?

POLIGAMI… mungkin menjadi momok bagi sebagian wanita… Nyok, kite liat latar belakang dari adanya aturan poligami itu. Kita gunakan mesin waktu untuk kembali ke masa dimana Rasulullah SAW masih hidup. Jaman jahiliyah… Bagaimana keadaan wanita saat itu? LOW POINT!!!
Lahirnya bayi wanita, eh perempuan, merupakan aib bagi sebuah keluarga. Dan lu tahu ga? Bayi-bayi imut itu, langsung dikubur hidup-hidup ko? Piye tanggapanmu? BAYANGPUN!!!
Nah, itu padahal baru bayi, dimana mukanya masih lucu dan imut2, belum ada dosa sama orang lain saat itu. Apalagi, nek udah gede. Udah jelek, udah nyebelin, tambah lagi amit2. HE HE HE… kebayang donk perlakuan apa yang bakal wanita-wanita itu terima.
Dari sebuah buku yang saya baca, wanita-wanita di jaman itu, bisa dibilang beruntung ketika mereka bisa menjadi wanita simpanan alias selir, dijadikan istri kesepuluh, keduapuluh, atau kesekian, pokoknya dijadikan pemuas nafsu ajah. Lho?? Itu beruntung lo katanya… Nek jaman saiki, ogah lah…
Nah, seorang wanita dikatakan memiliki keadaan paling jelek, setelah dikubur hidup2 bersama suaminya yang meninggal duluan(pernah terjadi di kekaisaran Mesir), adalah ketika dia dijadikan pemuas nafsu, kemudian dengan indahnya, mereka dicerai, atau diusir, pokoknya dibuang, bak tisu setelah dipakai. Wah… mbayangin ga tuh?
Termasuk di Arab, nek udah dibuang kayak gitu, atau tak bersuami, status mereka seakan-akan menjadi menjijikkan. Luntang lantung, ga ada yang ngurusin (maklum lah, jaman dulu kan wanita ga kayak sekarang. Sekarang kan wanita2 bisa mandiri, bahkan bisa menjadi wanita karir), apalagi di tengah ganasnya gurun pasir Arab. Belum lagi, ada cowok cowok jail. Nah loh….
Oke, kita tinjau dari sisi Islam ya? Al Quran, diturunkan sebagai Rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam, yang akan menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dan inilah yang terjadi di masyarakat, ga mungkin kalau Islam ga ngurusin, atau ga mengeluarkan aturan tentang poligami. Soalnya di saat itu, issue tentang poligami memang sudah ada, ga Cuma empat istri, bahkan di Cina, ada kaisar yang berisitri 300.000 biji. He he he
Belum lagi selir2nya. Wakakaka…
Nah, kita liat yuk apa maksud Al Quran menurunkan aturan tentang poligami :
membatasi, sekali lagi MEMBATASI praktek poligami dengan istri2 yang tak terhitung jumlahnya.
Melindungi hak-hak para istri buangan alias janda, agar bisa tetap hidup.
Dan perlu diingat, itu hanya kebolehan, bukan anjuran untuk melakukan poligami.
Dll, silahkan cari di artikel yang lebih terkait dan terpercaya lainnya.
Aku Cuma ingin beropini, berdasarkan apa yang disampaikan oleh beberapa pandangan, dan kajian2 yang saya ikuti.
Kalau bisa satu istri, pasti kami selaku wanita, akan amat sangat menghargai sang suami. DIJAMIN!!!
Saya akan membolehkan suami menikah lagi andaikata sudah tak ada jalan lain kecuali dengan poligami, misal aku sakit menahun sehingga tak bisa memenuhi hak suami. Maka aku relakan beliau didampingi selainku. Tapi kalau alasannya, misal kayak orang yang tadi ngobrol sama aku, yang kuceritain di atas, itu kan masih ada alternative lain selain dengan poligami.
Kalau mau mbantu janda, toh istrinya yang disuruh terjun langsung kan bisa? Lagian, janda2 jaman sekarang, bukanlah janda2 yang ada di jaman Rasulullah SAW. Liat ajah, mereka justru heppy tuh dengan kejandaannya.
Kalau untuk menghindari perzinahan, semua orang, ga Cuma para cowok, juga mendapat ujian yang sama. Menjaga diri dari perzinahan. Pasti bisa Kok!!! Aku yakin itu… Salut buat para suami yang setia, dan mampu menjaga diri.
Apapun alasan yang diungkapkan seseorang ketika dia mau berpoligami, alasan yang sebenarnya, apakah itu nafsu atau ilmu, hanya dia sendiri dan Allah yang tahu. Hati-hati, karena nafsu itu kerjaannya setan. Dan semakin orang beralasan, semakin memperjelas kelemahan dan kekurangan mereka. Ga percaya? Lha wong mung alesan kok!!
Sampean mau berpoligami karena apa?
Tanya saja pada hati nurani sampean. jawabannya ada di situ, semoga bukan nafsu yang berbicara…

Otak dan relaksasi
Januari 3, 2009

KONDISI ALFA
Ada suatu waktu ketika Anda merasa tenang sekali, seakan berada pada puncak kegembiraan dan ketenangan tiada tara. Mirip pengalaman Aha! (Aha! Experience) dari Abraham Maslow. Pengalaman puncak itu adalah pengalaman ketika seseorang merasa bersatu dengan alam raya. Dalam pengalaman puncak itu, “seseorang menjadi lebih dari diri sendiri, lebih mewujudkan kemampuannya dengan sempurna, lebih dekat dengan inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia”.
Keadaan alfa ini pernah digunakan oleh tim olimpiade Jerman Timur tahun 1964 untuk memperoleh prestasi yang baik. Akademi olah raga di Canberra bahkan menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum. Para pemain golf di Canberra — sebelum mereka memukulkan stik golfnya ke sebuah hole — mereka secara fisik masuk ke  keadaan alfa secara cepat dan membayangkan bahwa mereka memukul dengan sempurna.
Tidak itu saa, metode belajar yang populer dengan istilah Quantum Learning secara tak langsung menciptakan keadaan alfa ini ketika belaar. Rekayasa lingkungan yang nyaman, antara lain melalui musik, membuat otak berada dalam keadaan jernih, relaks, tetapi siaga.
Tanpa bermaksud bergurau, Maxwell Cade yang menulis The Awakend Mind dan Michael Hutchinson yang menulis buku Mega Brain, setelah meneliti para biksu Zen, pendeta, dan para profesional, menyatakan bahwa untuk masuk ke keadaan alfa kita butuh waktu 15-20 th bermeditasi! Sekali lagi, 15-20 tahun! Artinya bila Anda memulai meditasi secara serius pada usia 20 tahun, maka nanti pada usia 40 tahun baru Anda berhasil, secara mandiri dan semaunya, dapat masuk ke kondisi alfa ini.
Namun pernyataan Cade dan Hutchinson itu hampir tidak berarti lagi. Seseorang bernama Sean Adam, psikolog motivasional dari Amerika, berdasarkan penelitiannya pada meditasi dan keadaan trance, berhasil “memampatkan” waktu yang demikian lama itu. Ia berhasil “mencangkokkan” gelombang alfa itu melalui program yang dinamakan alphalearning. “Hanya” dengan kursus beberapa hari saja, dan dengan bantuan komputer, seseorang dapat masuk ke keadaan alfa.
Caranya? Mula-mula dilakukan tes EEG untuk mengecek kemampuan Anda dalam membaca dan belajar, mendengarkan, menutup mata untuk santai. Kemudian Anda diberi soal matematika dan disuruh mengambil keputusan. Berdasarkan ini lalu ditentukan berapa frekuensi dari pelbagai kondisi otak Anda : saat siaga dan terjaga, belajar, keadaan konsentrasi penuh, dan saat santai, atau tidur ketika seseorang tidak merasakan sakit. Dengan sebuah komputer, berupa mesin otak Inner Quest, Anda “diajak” menuju keadaan teta.
Cara Adam di atas walaupun baik, tetapi terlalu sulit dan mahal. Pada praktisnya, tanpa rekayasa apapun, seseorang sesungguhnya bisa berada dalam keadaan alfa. James Watt yang menemukan solusi kamar mesin ketika sedang berjalan santai, Rowan Hamilton ahli matematika yang memecahkan persoalan pelik persamaan matematisnya ketika berjalan bersama istrinya pada sore hari, Otto Loewi yang menemukan mekanisme kimia di ujung-ujung saraf (yang membuatnya mendapat nobel kedokteran dan psikologi pada tahun 1936) ketika sedang tidur dan bermimpi, atau Watson dan Crick yang menemukan struktur dobel heliks gen-gen pada manusia. Keadaan alfa sesungguhnya mudah dimasuki. Tentu disamping harus ada kemauan