Adopted but Not Addicted…

Aku sudah berada di ujung hari ketika menulis ini. Tak pernah menyangka aku akan merindukan ini semua. Tempat IST yang awalnya sungguh tak ingin kulihat. Tempat belajar yang pada awalnya tak ingin aku kunjungi, bahkan tak pernah ingin aku terjuni. Tak sangka semua berbalik…

Pada saat pagi menjelang, ketika mata tak terbiasa dengan sinar yang berbeda di Sukabumi, semua terasa tak pernah mudah. Seperti menelan air di saat semua lambung telah terpenuhi. Namun seperti halnya ganja yang memabukkan dan membuat si penderita sakit karena tak mengonsumsinya, seperti inilah keadaanku. Udara dingin yang bisa saja membunuhku sewaktu-waktu, seakan menjadi kawan. Benar kata orang, jadikanlah musuhmu menjadi kawanmu… Maka kau akan menemukan tempat paling aman. Karena tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya.

Seakan telah tergambarkan dan tergariskan, air keadaan mengalir seolah tak pernah ada “saat pertama”. Mengalir membawa radang bernama “terbiasa”. Aku mulai terbiasa dengan perjalananku menuju tempatku belajar. Aku mulai terbiasa dengan bahasa yang dulunya kuanggap bahasa planet. Aku mulai terbiasa dengan selengekan serta guyonan yang kadang menghadirkan gelak tawa ataupun air mata. Kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya bukan hanya membiasa, tapi mulai teradopsi dalam kebiasaanku sendiri.

Di sini, tak hanya ada rupa kebaikan, bahkan rupa kebatilan pun aku bisa tahu. Tapi peduli amat dengan semua itu, aku terlalu terlena dengan deru hal-hal baru yang mulai kunikmati. Walaupun “kesendirian” seolah tak pernah mau memisahkan ragaku darinya. Aku larut dalam suasana ini, dalam hingar bingar ini. Sering kuteriakkan jerit suara hati, lantang dan menantang. Masih aku tak peduli. Kadang aku bertanya kenapa, bagaimana, akan seperti apa. Hanya jawab kosong yang mungkin tertelan dengan hiruk pikuk keramaian pesta pora hati.

Pelan sudut kecil bola mataku melihat, ada seseorang di sana. Biasa dan teramat sederhana. Perhatian yang sederhana, tugas yang sederhana, dan kasih sayang yang sederhana. Melihatnya menyadarkanku dari gelak euphoria yang sedang kualami. Lirih hati yang telah lama terjepit akibat kelalaianku, memintaku untuk berhenti sejenak. Tak terasa langkah kaki penuh nanahku ini mendekatinya, memintanya menarikku dari semua ini. Lelah yang teramat sangat hingga membiasa, menelan tubuhku mentah-mentah. “Tolong”…jeritku padanya.

Dia yang sederhana itu menyentuh tepat di hati yang teramat lelah itu.. Cukup secukupnya… Namun air perhatiannya merupakan darah bagi tandusnya nuraniku.. Dan aku mulai sadar, bahwa ini semua hanyalah mimpi yang akan semakin menusukku dalam candu yang lainnya..

Iklan

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: