Archive for Januari, 2011

Dare or Not? Menampar angiiiiin>>>>
Januari 28, 2011

Terlewati banyak waktu sebelum akhirnya bisa menampar angin malam seperti ini. Terlewati banyak tahun sebelum akhirnya bisa bersama motor untuk kebut-kebutan seperti malam ini. Jauh-jauh dari Jakarta ke Sukabumi aku tak mau pulang dengan rutinitas yang sama, tidur. Kalau tidur, di Jakarta pun aku bisa. Tapi malam ini lain, megapro di genggaman, bensin siap ditumpahkan, nyali siap dikuatkan, adrenalin siap dikumpulkan.

Mungkin waktu sudah menunjuk jam 00.00 ketika hawa dingin menampar pipiku di tengah jalan. Awal yang perlahan, pelan tapi pasti bahwa motor tetap berjalan dalam track. Menit berlalu, tungganganpun mulai menderu. Jalanan sepi seakan tahu kebutuhanku untuk melepas adrenalin yang bertahun-tahun tak teruji.

Akselerasi ditancapkan, kopling pun disiagakan. Rem tangan pakem bak busur yang menembus sasaran, rem kaki selaras dengan laju kaki kanan.

Udara dingin seakan tak menghalangi untuk tetap asyik dalam angin yang lebih dari menampar, seakan manghajar dan menghantam. Air mata yang berkali-kali mengalir sudah tak mampu lagi menghentikan serunya hidup dalam lingkaran tantangan. Sesekali mobil dari arah berlawanan, berlomba untuk mendapat line di jalanan. Berebut dengan waktu dan ketepatan sasaran, begitu juga dengan motor-motor yang saat itu memang sedang diperlombakan.

Menang atau kalah, bukanlah masalah. Hidup atau mati, itu sudah resiko yang mesti dihadapi. Mungkin orang bilang, buat apa, atau bahkan ada yang bilang “edan”. Tapi ini semua masalah ambisi, bukan prestisi ataupun upaya rekonstruksi. Semua murni ambisi…

Kecepatan sudah tak di angka puluhan, jalanan tetap menantang untuk ditaklukan. Gelapnya malam dan dinginnya sekitar menambah keinginan untuk menambah kecepatan. Berkali oleng, tapi tak mengapa, karena segera mampu untuk menyeimbangkan beban. Kadang aku berfikir, memang kita butuh beban untuk menyeimbangkan motor agar tidak mudah oleng saat kecepatan tinggi. Seperti inilah hidup, kita butuh beban untuk menyeimbangkan kuasa agar tidak mudah oleng saat kecepatan kesuksesan kita tinggi. Atau malah mungkin kita butuh beban sepersekian persen agar kita bisa mencapai kecepatan yang kita inginkan. Who knows??

/*

F=m.a

a=F/m

Dari rumus aja keliatan bagaimana massa beperan peting dalam kecepatan atau progres hidup kita. Tidak asal nge-gas ajah, tapi harus mikir massa kita

*/

Ujung ke ujung sudah terlewati, dengan tantangannya sendiri-sendiri. Kadang jalan memang bopeng, kadang sirine polisi sangat mengganggu, bahkan mobil mobil lain seakan tak mau memberi jalan. Namun tunggangan sudah tak mungkin lagi terhentikan atau berkurang kecepatan, hanya bisa menghindar atau menerjang. Salabintana terjamah, Sukaraja sudah habis diambah, seakan habis jalan ini tercicipi oleh gilasan roda. Tanjakan, turunan, belokan, biasa. Jumping, miring… a little of standing, sudah..Cukup?? Tentu tidak.. See next chapter, for a new challenge…

What next???

Tx buat someone… What a great night!!!

Iklan


Januari 21, 2011

Tuhan, betapapun aku berusaha melupakannya, aku tetap belum bisa melupakannya.

Allah ku yang Mulia, seberapa besar aku ingin membuang jauh kenangannya, hanya sesak yang ada di sana.

Benarkah apa yang kulakukan ini?

Setujukah Engkau dengan keputusan yang telah kuambil ini?

Aku bertingkah seolah aku tak pernah merasakan patah hati

Namun semakin aku berpura-pura, semakin dalam kejujuran dari hati ku ini ya Allah

Bahwa aku merindukannya, bahwa dia berarti dan penting untukku..

Ya Allah, aku tak ingin lagi menyandingnya dalam masa depanku

Biarlah lembaran baru itu kulewati tanpa mesti ada goresannya

Namun Tuhan, sebegini beratkah ujian yang harus kulewati?

Seperti meninggalkan jantung untukku hidup

Seperti mengorbankan raga untukku berjalan

Akankah kau menghapusnya untukku?

Berkenankah kau ganti dia dengan yang lebih tepat untukku?

Aku percaya padaMu,,,

 

Dia
Januari 18, 2011

Pertama kulihat, biasa saja

Kedua kali bertemu, masih biasa

Ketiga kalinya aku mulai heran… kenapa ada perasaan nyaman. Ada satu keinginan terlarang yang tak akan pernah aku lakukan, aku ingin bersandar di bahunya. Ingin memeluknya dan melepas penatku di punggungnya..

Aku menyerah untuk mempertahankan imajinasi liarku. Setan lebih kuat ternyata. Cukup satu kata untuknya, sederhana.. Perhatian yang sederhana. Kepedulian yang sederhana. Celotehan sederhana. Layanan yang sederhana. Pandangan yang sederhana. Tapi itulah indahnya, begitu sederhananya Dia.

Andai Dia tahu apa yang kukagumi darinya. Andai aku tahu kenapa aku merasakan ini semua.

Hingga sampai saat aku menulis ini, kenangan bersamanya akan selalu indah.. Belum ada cacat yang melukai pandanganku terhadap dia…

Siapapun yang memiliki Dia saat ini dan seterusnya, semoga tak menyia-nyiakannya. Karena dia begitu indah… Hati yang lembut itu… Sikap yang sederhana itu, memang sudah tak mungkin termiliki olehku.. Aku bersyukur akan kesempatan yang ada bersamanya…

Dia..

Andai Dia tahu..

Kenapa?
Januari 15, 2011

Tuhan…
Kenapa selalu ada akhir di setiap permulaan?
Tuhan kenapa selalu ada sedih setiap ada tawa?
Kenapa selalu ada kenangan di setiap ada keindahan?

Mengapa tak seperti robot yang tak pernah berada di posisi manusia? tak pernah ribet dengan perasaan susah senang, sedih bahagia, cinta dan benci?
Apa yang kau harapkan dari perputaran hati ini?

Ketika ALLAH mengijinkanku menghentikan WAKTU!
Januari 8, 2011

Andai waktu itu mau menurutiku, mungkin tak akan begini jadinya. Seandainya jarum jam di seluruh dunia berkenan mengabulkan pintaku, mungkin tak akan begini jadinya. Satu-satunya cita yang mungkin tak akan pernah tercapai dalam hidupku adalah menghentikan hal simpel yang biasa dipanggil “waktu”.
Seandainya waktu mau menurutiku…
Mungkin berita-berita kecelakaan di saat sarapan pagi, tak pernah ada. Mungkin berita-berita perceraian artis sebagai santapan rohani ibu2, pun tak kan pernah ada. Andai waktu berhenti sebelum itu semua terjadi…

Seandainya waktu menurutiku…
Mungkin tak akan pernah ada wanita2 yang tersakiti, karena sebelum pria-pria hidung belang menyakiti mereka, waktu akan aku berhentikan dan memutarnya kembali ke arah yang sebaliknya.

Seandainya saja waktu mau menurutiku,
Mungkin tak akan pernah ada kata perpisahan, selamanya terjebak dalam kehangatan sebuah keadaan…

Tapi andaikata bisa pun, andaikata Allah memberiku jackpot untuk mengabulkan mimpiku itu, tentulah aku tak tega melakukannya. Karena waktu bukan hanya milikku. Semua orang punya waktu..
Katakan saja aku bisa menghentikan waktu sebelum kecelakaan terjadi, tentulah si redaksi media masa akan bersedih, karena dia berharap waktu tetap berjalan. Atau mengijinkan waktu berhenti, minimal tidak di saat itu.
Katakan aku bisa menghentikan waktu sesaat sebelum sidang perceraian dilaksanakan, tentu hakim akan merasa dipermainkan dengan itu.
Katakan aku bisa menghentikan waktu sebelum wanita merasa tersakiti, tentu para wanita akan selamanya menjadi mahluk lemah yang tak pernah belajar untuk “menjadi kuat”.
Katakan aku bisa menghentikan waktu di suatu keadaan sehingga tak pernah ada kata “akhir”, mungkin akan ada beberapa orang yang bersedih, sebab di saat itu dia ingin waktu itu segera berakhir. Saat yang bagiku hangat, bisa jadi adalah neraka baginya…Padahal kita ada di dimensi waktu yang sama…
Tegakah aku memakai jackpot yang diberikan Tuhan untuk menghentikan waktu??
Sebegitu egoiskah aku hingga tak melihat kenyataan bahwa “waktu” bukan hanya milikku saja?

Think before Ink!!
Lho???

Adopted but Not Addicted…
Januari 6, 2011

Aku sudah berada di ujung hari ketika menulis ini. Tak pernah menyangka aku akan merindukan ini semua. Tempat IST yang awalnya sungguh tak ingin kulihat. Tempat belajar yang pada awalnya tak ingin aku kunjungi, bahkan tak pernah ingin aku terjuni. Tak sangka semua berbalik…

Pada saat pagi menjelang, ketika mata tak terbiasa dengan sinar yang berbeda di Sukabumi, semua terasa tak pernah mudah. Seperti menelan air di saat semua lambung telah terpenuhi. Namun seperti halnya ganja yang memabukkan dan membuat si penderita sakit karena tak mengonsumsinya, seperti inilah keadaanku. Udara dingin yang bisa saja membunuhku sewaktu-waktu, seakan menjadi kawan. Benar kata orang, jadikanlah musuhmu menjadi kawanmu… Maka kau akan menemukan tempat paling aman. Karena tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya.

Seakan telah tergambarkan dan tergariskan, air keadaan mengalir seolah tak pernah ada “saat pertama”. Mengalir membawa radang bernama “terbiasa”. Aku mulai terbiasa dengan perjalananku menuju tempatku belajar. Aku mulai terbiasa dengan bahasa yang dulunya kuanggap bahasa planet. Aku mulai terbiasa dengan selengekan serta guyonan yang kadang menghadirkan gelak tawa ataupun air mata. Kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya bukan hanya membiasa, tapi mulai teradopsi dalam kebiasaanku sendiri.

Di sini, tak hanya ada rupa kebaikan, bahkan rupa kebatilan pun aku bisa tahu. Tapi peduli amat dengan semua itu, aku terlalu terlena dengan deru hal-hal baru yang mulai kunikmati. Walaupun “kesendirian” seolah tak pernah mau memisahkan ragaku darinya. Aku larut dalam suasana ini, dalam hingar bingar ini. Sering kuteriakkan jerit suara hati, lantang dan menantang. Masih aku tak peduli. Kadang aku bertanya kenapa, bagaimana, akan seperti apa. Hanya jawab kosong yang mungkin tertelan dengan hiruk pikuk keramaian pesta pora hati.

Pelan sudut kecil bola mataku melihat, ada seseorang di sana. Biasa dan teramat sederhana. Perhatian yang sederhana, tugas yang sederhana, dan kasih sayang yang sederhana. Melihatnya menyadarkanku dari gelak euphoria yang sedang kualami. Lirih hati yang telah lama terjepit akibat kelalaianku, memintaku untuk berhenti sejenak. Tak terasa langkah kaki penuh nanahku ini mendekatinya, memintanya menarikku dari semua ini. Lelah yang teramat sangat hingga membiasa, menelan tubuhku mentah-mentah. “Tolong”…jeritku padanya.

Dia yang sederhana itu menyentuh tepat di hati yang teramat lelah itu.. Cukup secukupnya… Namun air perhatiannya merupakan darah bagi tandusnya nuraniku.. Dan aku mulai sadar, bahwa ini semua hanyalah mimpi yang akan semakin menusukku dalam candu yang lainnya..

Desah Terlarang
Januari 5, 2011

Melihatmu…sudah cukup membuatku bahagia…
Apalagi ada di dekatmu, cuma ada satu kata…
Nyaman…
Tapi udara pun mengatakan…”lupakan saja”…
Maafkan aku yang memang belum bisa menurutinya..
Angin…ijinkan aku memiliki rasa ini meski aku tahu
Semua ini akan terlupakan
Seperti yang sudah sudah…