Otak dan relaksasi

KONDISI ALFA
Ada suatu waktu ketika Anda merasa tenang sekali, seakan berada pada puncak kegembiraan dan ketenangan tiada tara. Mirip pengalaman Aha! (Aha! Experience) dari Abraham Maslow. Pengalaman puncak itu adalah pengalaman ketika seseorang merasa bersatu dengan alam raya. Dalam pengalaman puncak itu, “seseorang menjadi lebih dari diri sendiri, lebih mewujudkan kemampuannya dengan sempurna, lebih dekat dengan inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia”.
Keadaan alfa ini pernah digunakan oleh tim olimpiade Jerman Timur tahun 1964 untuk memperoleh prestasi yang baik. Akademi olah raga di Canberra bahkan menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum. Para pemain golf di Canberra — sebelum mereka memukulkan stik golfnya ke sebuah hole — mereka secara fisik masuk keĀ  keadaan alfa secara cepat dan membayangkan bahwa mereka memukul dengan sempurna.
Tidak itu saa, metode belajar yang populer dengan istilah Quantum Learning secara tak langsung menciptakan keadaan alfa ini ketika belaar. Rekayasa lingkungan yang nyaman, antara lain melalui musik, membuat otak berada dalam keadaan jernih, relaks, tetapi siaga.
Tanpa bermaksud bergurau, Maxwell Cade yang menulis The Awakend Mind dan Michael Hutchinson yang menulis buku Mega Brain, setelah meneliti para biksu Zen, pendeta, dan para profesional, menyatakan bahwa untuk masuk ke keadaan alfa kita butuh waktu 15-20 th bermeditasi! Sekali lagi, 15-20 tahun! Artinya bila Anda memulai meditasi secara serius pada usia 20 tahun, maka nanti pada usia 40 tahun baru Anda berhasil, secara mandiri dan semaunya, dapat masuk ke kondisi alfa ini.
Namun pernyataan Cade dan Hutchinson itu hampir tidak berarti lagi. Seseorang bernama Sean Adam, psikolog motivasional dari Amerika, berdasarkan penelitiannya pada meditasi dan keadaan trance, berhasil “memampatkan” waktu yang demikian lama itu. Ia berhasil “mencangkokkan” gelombang alfa itu melalui program yang dinamakan alphalearning. “Hanya” dengan kursus beberapa hari saja, dan dengan bantuan komputer, seseorang dapat masuk ke keadaan alfa.
Caranya? Mula-mula dilakukan tes EEG untuk mengecek kemampuan Anda dalam membaca dan belajar, mendengarkan, menutup mata untuk santai. Kemudian Anda diberi soal matematika dan disuruh mengambil keputusan. Berdasarkan ini lalu ditentukan berapa frekuensi dari pelbagai kondisi otak Anda : saat siaga dan terjaga, belajar, keadaan konsentrasi penuh, dan saat santai, atau tidur ketika seseorang tidak merasakan sakit. Dengan sebuah komputer, berupa mesin otak Inner Quest, Anda “diajak” menuju keadaan teta.
Cara Adam di atas walaupun baik, tetapi terlalu sulit dan mahal. Pada praktisnya, tanpa rekayasa apapun, seseorang sesungguhnya bisa berada dalam keadaan alfa. James Watt yang menemukan solusi kamar mesin ketika sedang berjalan santai, Rowan Hamilton ahli matematika yang memecahkan persoalan pelik persamaan matematisnya ketika berjalan bersama istrinya pada sore hari, Otto Loewi yang menemukan mekanisme kimia di ujung-ujung saraf (yang membuatnya mendapat nobel kedokteran dan psikologi pada tahun 1936) ketika sedang tidur dan bermimpi, atau Watson dan Crick yang menemukan struktur dobel heliks gen-gen pada manusia. Keadaan alfa sesungguhnya mudah dimasuki. Tentu disamping harus ada kemauan

Iklan

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: