Kado ultah buat Mama

Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh
Kepripun kabare Ma? Sae? Zaki kepriwe? Maaf sue ra ngubungi, butuh waktu go dewekan… he he alah.. biasane juga dewekan dink. Zaki sok takon aku ra Ma? Ria yakin mbesuk gede zaki bakal dadi wong hebat, sing bisa gawe mama bangga. Amin…
Met ultah ya Ma? Kadone? Gampang… Kadoku sebuah cerita. Yah.. mung bisane nggombal. He he…
Begini ceritanya :

Ada sebuah keluarga yang terdiri ayah, ibu, dan anak. Sejak kecil, anak itu mengira bahwa keluarganya akan baik-baik saja, sama seperti keluarga-keluarga yang lain, walaupun sering melihat kedua orang tuanya bertengkar, cekcok, padahal waktu itu ia masih terlalu kecil untuk paham apa itu pertengkaran. Dia ga tahu apa yang harus dia lakukan. Cuma diam, bahkan untuk bertanya, “Kenapa kalian bertengkar?”, itu saja dia ga berani. Sejak kecil ia tak pernah diajari untuk bermusyawarah, untuk mendengarkan pendapat orang lain, jarang diberi contoh untuk berkomunikasi yang baik, jadi dia hanya diam dan membiarkan semuanya itu terjadi. Walaupun begitu, semua peristiwa-peristiwa itu terekam kuat dalam memorinya.
Suatu ketika, ayahnya pergi dari rumah dan tak pernah kembali lagi untuk pulang ke rumah. Yang lagi-lagi dia tak ingin tahu kenapa. Tapi dalam hati kecilnya ia tak bisa mengacuhkannya. Di sisi lain si ayah anak ini tadi juga berat mesti berpisah dengan keluarganya, sebuah keluarga yang sebenarnya ingin ia pertahankan. Mungkin itu pilihan sang ayah, daripada akan memperburuk keadaan. Terpaksa harus berpisah dengan anak semata wayangnya itu. Sejak saat itu sang ibu mengasuh anaknya sendirian, single parent. Banting tulang, kerja keras, berbuat apapun untuk mengasuh anaknya, ingin melihat anaknya berhasil.
Di sisi lain sang ayah pun tetap memperhatikan dan mengawasi anaknya, walaupun dari tempat yang berbeda. Sering ia kangen dengan keluarganya, terutama anaknya. Ingin bertemu, tapi ternyata ga semudah yang ia bayangkan. Sebenarnya ia masih ingin mendampingi anaknya beranjak besar, mengawasi perkembangannya, tapi apa mau dikata. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memenuhi kebutuhan lahirnya, karena hanya itu yang bisa ia perbuat. Batasan jarak dan waktu yang tidak mengijinkannya melakukan lebih dari itu.
Semakin hari semakin lama, semakin anak itu mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya, mengerti apa yang berlaku di keluarganya. Broken home, frase yang biasa ia dengar di tv, di kisah-kisah fiksi, yang ternyata malah menjadi fakta dalam hidupnya. Sering ia bertanya pada Tuhannya, “Kenapa aku tidak sama dengan teman-temanku Tuhan? Kenapa aku hanya sebentar melihat ayah dan ibuku dalam satu rumah? Lihat, temen-temenku yang lain bisa berkumpul bareng di sore hari. Bercanda, tertawa, bercerita. Kenapa kami tidak? Apa mauMu Tuhan? Apa salahku? Apa Kau membenciku? Kenapa mesti aku? Kenapa aku?”
Pertanyaan kenapa mesti dia, itulah yang sering ia tanyakan pada Tuhannya. Namun seakan-akan tak ada jawaban dari Tuhannya.
Sang anak semakin besar, beranjak remaja. Keadaan rumahnya tak bernjak baik. Mungkin fase remaja menjadi fase yang tak mudah baginya. Seringkali anak itu bersikap semaunya, sering melanggar aturan-aturan. Belum lagi kadang terjadi kesalahpahaman antara dia dan ibunya. Ibunya sering kesal menghadapi anaknya ini. Anak itu masih belum melihat betapa susahnya ibu membesarkannya.
Tiba waktunya si anak harus menentukan pendidikan tingkat tinggi. Tanpa minta pendapat kedua orang tuanya, ia mendaftarkan diri di universitas di luar kotanya. Sebenarnya dalam hati kecil, dia ingin pergi dari perang dingin antara ayah dan ibunya. Mungkin ia merasa terjebak di tengah-tengah diantara kedua orang tuanya. Lelah, nah itu dia mungkin kata yang mampu mewakili perasaannya saat itu. Hubungan dengan ibunya juga belum begitu harmonis, masih sering terjadi salah paham, malah kadang kebawa emosi. Niat awal si anak adalah meninggalkan itu semua dengan meninggalkan tempat kejadian perkara. Berharap ada lingkungan baru yang bisa melupakannya dari masalah-masalah di rumah.
Entah bagaimana awalnya, ayah dan ibunya tahu kalau dia mendaftar di universitas di luar kotanya. Terjadilah perbincangan antara ibu dan anaknya itu. Mungkin baru di sinilah ada komunikasi yang enak. Dari awal ibunya ga satuju anaknya pergi dari kotanya andai kata ia diterima, tapi saat itu berbalik 180 derajat, sang ibu malah mendukung niat si anak, memintanya serius belajar, dan agar bisa mengangkat nama keluarganya, karena ga ada yang bisa melakukannya kecuali dia. Mendengar itu, sang anak teringat akan kenangan-kenangan di masa kecilnya. Dia ingat sindiran-sindiran, cemoohan dari tetangganya dulu. Sakit, tapi dia ga pernah cerita ke ibunya. Saat itulah ia sadar bahwa perjuangan ibunya selama ini begitu besar. Kerja kerasnya, lembur sampai malam, kalau ga bangun pagi-pagi menyelesaikan pekerjaannya di saat si anak sedang enak-enaknya terlelap. Belum lagi kebutuhan-kebutuhannya selama ini yang telah dia usahakan untuk terpenuhi. Sang anak sadar, ia jarang sekali melihat ibunya beristirahat, atau tertawa. Belum lagi sakit hati ibunya menghadapi kenakalannya selama ini. Dia menyesal, dan terharu mendengar apa yang dikatakan ibunya.
Semenjak itu, sedikit demi sedikit ia berubah. Awalnya ia anak yang males belajar, dan hanya main-main dalam studinya, kini ia bertekad untuk lebih serius. Belajar lebih keras, belajar dan belaar agar bisa diterima di universitas yang ditujunya, agar bisa mengangkat nama keluarganya. Ketika ia kelelahan atau mulai jenuh, ia ingat lagi cita-citanya, ingat lagi tujuannya.
Saat pengumuman pun tiba, dan berkat ijin Tuhannya dia diterima. Dan kalian tahu, siapa yang pertama kali menangis mendengar kabar ini? Ya..benar, ibunya…
— 0 —-
Cerita masih berlanjut…
Setelah berpisah kota dengan orang tuanya, anak itu berusaha mandiri. Awalnya memang butuh adaptasi, yang semula terlayani, kini dia harus belajar menentukan pilihan sendiri. Di awal kepindahannya ke kota barunya itu, ia masih sering teringat ibunya. Ketika dia pulang sekolah, biasanya ibunya menjemputnya, sudah banyak makanan di rumah, dan masih banyak lagi. Semakin tergambar jelas kebaikan-kebaikan ibunya selama ini, yang sering ia abaikan. Mungkin ini jawaban dari doa-doanya selama ini. Dengan begitu, si anak jadi semakin sadar akan hutang budinya. Banyak hal yang ia pelajari di kuliahnya, tidak sekedar materi kuliah, tapi lebih banyak lagi akan pelajaran kehidupan. Bukankah tidak ada sekolah yang lebih baik disbanding kehidupan itu sendiri?
Kadang ia merasa heran, ketika melihat ada suami istri yang jalan berduaan, menampilkan kemesraan dan kasih sayangnya. Kadang ia merasa aneh melihat ada seorang ayah, ibu, dan anak yang naik motor bersama, atau ketika melihat rumah yang di dalamnya ada kakek dan nenek hidup bersama. Kok bisa ya? Gimana rasanya ya? Tanya hati kecilnya.
Namun lambat laun pertanyaan-pertanyaan itu hilang tertelan kesibukan. Saat ia lelah, dan jenuh menajalani rutinitas, atau ketika patah semangat, ia ingat lagi akan perjuangan ibunya di rumah. Ia ingat lagi akan cita-citanya untuk membanggakan dan membahagiakan ayah dan ibunya. Dan kemudian ia menemukan semangatnya kembali.
Beriringan dengan berjalannya waktu, ia semakin belajar. Ia tahu masa lalu itu tak akan pernah hilang, karena dia sadar, adanya dia di saat ini adalah berkat susunan-susunan masa lalunya. Bedanya saat ini, ia lebih bisa melihat masa lalunya dari sudut pandang yang berbeda. Hatinya sudah bisa berdamai dengan sosok ayah dan ibunya, mereka adalah orang-orang yang hebat yang mengajarkan begitu banyak hal, hingga sekarang ia mampu menjadi dirinya yang sekarang. Meskipun masih ada riak-riak kecil yang mengganggunya, ketika ia masih menerima kenyataan bahwa kadang ia terjebak diantara perang dingin kedua orang tuanya. Fakta yang bisa saja dipertanyakan. Padahal masing-masing dari mereka sudah memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri. Tapi ia tak mau terlalu ikut campur untuk masalah itu. Ia hanya berusaha bersikap adil, dan kata orang, adil itu ga mudah. Harapannya saat itu adalah kedua orang tuanya bisa saling memaafkan, walaupun mungkin sakit di masa lalu itu tak akan pernah terlupakan. Dan sesungguhnya semua pihak merasakan sakit hati itu. Berat atau ringannya sakit itu, tergantung dari cara pandang masing-masing orang saja. Anak itu ingin melihat ada kebencian lagi diantara keduanya, susah mungkin, tapi ia selalu yakin kalau itu bisa dilakukan. Orang bijak mengatakan kalau kebencian hanya akan membakar orang yang memiliki kebencian itu.
Belum lama ini, sang anak kesal pada ibunya, sebab apa yang ia lakukan ke ayahnya disangkut pautkan dengan materi yang diberikan ayahnya kepadanya. Anak itu tak pernah berfikir sampai kesana, sebab itulah ia kesal, dan tak berbicara. Tapi setelah ia mencoba berdiri di posisi ibunya, dia mulai memaklumi, “Mungkin lagi emosi”, itu yang sering ia yakinkan pada dirinya.
Sedari ia kecil hingga hari ini, di hari ulang tahun ibunya, dia selalu ingin berterima kasih pada ibunya, dan ingin menyampaikan kalau ia sayang padanya. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana cara yang baik untuk memberitahunya. Ia selalu ingin ibunya tahu, bahwa tak akan pernah ada orang yang akan menggantikan posisinya, dia ingin meyakinkan, kalau ibunya cuma satu, dan ayahnya pun cuma satu.
Pertanyaan yang dari dulu selalu ia tanyakan pada Tuhannya, kenapa mesti ia yang menerima cobaan itu, kali ini tak pernah ia tanyakan lagi. Karena ia sudah memiliki jawabannya,
“Karena Tuhan tahu bahwa aku kuat, dan pasti bisa melewati ujian itu.”
Kini ia bisa berlapang dada atas apapun yang diujikan padanya, karena ia tak pernah menganggap sesuatu adalah ujian, tapi tantangan. Tantangan dari Tuhan kepada hamba yang dikasihiNya, tantangan untuk hamba yang Ia percayai pasti kuat menjalaninya.
Dia ingin memberikan hadiah yang lebih indah dari yang sekarang ia berikan pada ibunya, tapi yang bisa ia lakukan hanya berdoa. Dia berdoa,
“ Ya Allah, terima kasih telah Engkau anugerahi orang tua yang mengasihiku, terima kasih atas ibu yang hebat hingga aku bisa seperti sekarang, terima kasih karena kau beri ayah yang tak pernah lupa akan tanggung jawabnya padaku. Begitu banyak yang telah ia lakukan untukku. Setetes air mata yang mereka keluarkan untukku tak akan pernah tergantikan walaupun dengan darah yang ada di tubuhku. Rabb, berilah mereka kebahagiaan di dunia dan akhiratMu. Izinkan aku membanggakan dan membahagiakan mereka. Berilah senyuman, agar mereka tak perlu menangis lagi. Bukalah dan hidupkanlah mata hati mereka agar nampak indah dunianya. Bukalah hatinya agar mereka tahu bahwa aku menyayangi mereka. Karuniakanlah mereka yang terbaik dari segala yang baik. Kabulkan setiap pinta dan doa mereka. Buanglah segala rasa yang justru akan menyakiti hati mereka. Maafkan segala dosa dan khilaf yang pernah ada. Hilangkan kegundahan dan siksa bagi mereka. Berilah kemudahan dalam setiap urusan mereka, Lancarkan rezekinya, serta jadikanlah mereka hamba-hambaMu yang pandai bersyukur. Jemputlah mereka dalam keadaan yang terbaik dan dalam keadaan Khusnul Khatimah, berilah mereka cahaya dan hidayahMu, ingatkan mereka padaMu. Jadikanlah mereka hamba-hambaMu yang Kau kasihi. Dan tolong jagalah mereka dari segala yang buruk. Serta indahkan hidup mereka ya Allah…
Ya Allah, izinkan mereka tahu bahwa aku sayang mereka
Izinkan mereka tahu kalau mereka adalah orang-orang terhebat yang pernah aku miliki…
Berilah kesempatan untukku berbakti dan menjalankan tugasku sebagai anak dengan baik, bisa bersikap adil pada keduanya…
Amin…
Terima kasih ya Allah… Engkau lah yang Maha Baik dari yang terbaik…”

Anak itu bukannya tak pernah menangis atau bersedih, hanya saja dia tak ingin menambah kesedihan orang tuanya dengan memperlihatkan kesedihannya. Tak ingin menambah beban orang tuanya dengan memperlihatkan masalahnya. Karena ia merasa apa yang sudah ia terima selama ini, itu sudah sangat lebih dari cukup. Ia ingin berterima kasih kepada orang tuanya, khususnya ibu yang telah membesarkannya…
Dan ia ingin ibunya tahu, bahwa ia bersyukur memilikinya…

The End
Fiuh… akhire rampung juga le ngetik… He he he… cerita sederhana kok… Biasa banget, tapi bukan sekedar cerita fiksi. Mama ngerti kan siapa anak yang diceritakaken mau?
Sip lah…
Happy Birthday Ma… May Allah always be with you…
Thanks for everything….

NB :
Salam manis and kecup sayang nggo zaky ya? Zaki… Miss U, muah… he he he
And buat keluarga di Banyumas, special thanks for Mba Nura, ingkang sampun berkenan membantu terlaksananya rencana ini (wuih bahasane gado2)
Lan kangge Mbah Uti, maturnuwun ya Mbah nggo kabehan, … ria dongakaken, ben bisa munggah kaji. Amin…
Buat semuanya aja yang sayang ibuku dan adekku… makasih banya…..k
Bye bye
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh… (^_^)    3rd Jan, 08
Your lovely doughter,

RIA

Iklan

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: