KODRAT BERBAHASA

Otak adalah bagian tubuh yang tersulit untuk dipelajari
E. Fuller Torey

Ketika akan menuju medan laga, seorang jenderal besar di kota Delphi (Romawi) berkunjung ke sorang dukun terkenal. Ia bermaksud meminta ‘azimat’ atau ‘kata-kata bertuah’, nasihat atau apa saja yang bias dijadikan azimat kebal peluru. Ia tidak ingin mati. “Kalau menang dan tidak mati”, piker jenderal besar itu, “siapa tahu saya bisa menjadi penguasa Romawi.
Ketika bertemu dengan sang dukun ia pun menyampaikan maksudnya. “Tenang saja”, kata sang dukun memulai nasihatnya. “Ibis redibis numquam peribis in armis”, lanjut sang dukun. Mendengar itu, wajah sang jenderal tiba-tiba cerah. Ia pulang dengan semangat membara, meloncat-loncat gembira, dan siap memenangi peperangan.
Walhasil? Malang nian nasib sang jenderal. Ia kalah perang, tidak menjadi penguasa Romawi dan paling tragis ia gugur di medan laga dengan ratusan tusukan di tubuhnya. Keluarga sang jenderal marah besar pada sang dukun. “Engkau pendusta. Engkau berkata ia akan memenangi perang dan tidak gugur”, kata sang istri sang jenderal dengan wajah merah marah. “Siapa bilang aku berkata begitu”, timpal sang dukun tak kalah sengit. “Aku hanya bilang “Ibis redibis numquam peribis in armis”, lanjutnya.
Rupanya sang jenderal salah mengerti. Ia mendengar itu sebagai dua buah kalimat yang terpisah sesudah kata redibis (menjadi Ibis redibis, numquam peribis in armis) dan berarti “Engkau akan pergi, akan kembali, dan tidak gugur di medan perang”. Padahal, sang dukun memaksudkannya Ibis redibis numquam, peribis in armis (tanda koma setelah numquam) dan berarti “Engkau akan pergi, tidak akan kembali dan gugur di medan perang”.
Apa yang tersirat dan tersurat dari cerita di atas? Kata-kata ternyata memiliki kekuatan yang dahsyat. Kata-kata bukan saja rangkaian huruf-huruf, melainkan juga sarat “beban”. Ada muatan di dalamnya. Semua yang menjadi muatan kata-kata harus dapat dipahami secara jelas untuk menemukan semangat yang dibawanya. Ilmu komunikasi memiliki prinsip: Words don’t mean, but people mean. Muatan kata-kata justru terletak pada penafsiran masing-masing orang.
Kisah di atas juga sangat dramatis, menggambarkan apa yang oleh ilmu bahasa dan ilmu komunikasi modern disebut PERSEPSI. Menurut sebagian besar filosof, dunia ini adalah tempat ia ditangkap, dan terutama dipersepsi, oleh panca indera dan otak.
Bagi dua orang atau lebih, tidak ada dunia atau fakta yang benar-benar objektif. Anda dan saya boleh melihat kuntum yang sama, kita boleh mencium aroma yang sama. Namun, bagaimana bunga itu memberi pengaruh pada diri kita masing-masing, itu adalah persoalan berbeda. Barangkali, bunga itu akan mengingatkan Anda pada seseorang yang pernah Andai cintai. Bagi saya, bunga itu mengingatkan tugas mata kuliah dulu. Ketika tentamen akhir mata kuliah, dan saya gagal. Bunga itu bagi Anda menyenangkan, tetapi bagi saya menyebalkan.
Persepsi adalah pekerjaan otak. Bila sensasi (masuknya impuls atau informasi melalui panca indera) terjadi pada ujung-ujung saraf, maka persepsi terjadi pada pusatnya di otak. Mungkin ini pekerjaan yang berat bagi otak. Mengapa? Karena persepsi membentuk pikiran dan cara berpikir. Komponen paling penting dari berfikir adalah mempersepsi.
PERSEPSI MELIBATKAN HAMPIR SEMUA KOMPONEN OTAK, TERUTAMA PUSAT-PUSAT PENGERTIAN DAN EMOSI.

Disadur dari “REVOLUSI IQ/EQ/SQ”, Taufik Pasiak.

Pertanyaannya sekarang adalah… APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KITA DENGAN KECERDASAN SQ (SPIRITUAL QUOTIENT) YANG DIANGGAP KECERDASAN DALAM HAL SUDUT PANDANG???

Iklan

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: